Kisah Inspiratif Enik Susilowati: Dari Keterbatasan Menuju Cita-cita di SRT 2 Banyuwangi

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 23:30 WIB
Kisah Inspiratif Enik Susilowati: Dari Keterbatasan Menuju Cita-cita di SRT 2 Banyuwangi

Kisah Inspiratif Enik Susilowati di Sekolah Rakyat Terpadu 2 Banyuwangi

SRT 2 Banyuwangi menjadi tempat tumbuhnya semangat toleransi dan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu. Sekolah yang terletak 15 km dari pusat kota ini menyimpan cerita inspiratif tentang perjuangan seorang Enik Susilowati, siswa beragama Hindu yang berhasil mengubah hidupnya melalui pendidikan.

Perjalanan Hidup Penuh Tantangan

Enik Susilowati (17), berasal dari Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Glenmore, mengalami masa kecil yang penuh kesulitan. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia harus hidup menumpang di rumah nenek setelah orang tuanya berpisah. Ibunya, Laminem, bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan pas-pasan, seringkali hanya cukup untuk makan sekali sehari.

Sekolah Rakyat sebagai Titik Balik

Melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Enik akhirnya bersekolah di SRT 2 Banyuwangi. Awalnya merasa tidak betah, namun lambat laun ia menemukan kenyamanan dan keluarga baru di sekolah ini. "Kalau tidak ada sekolah ini, kemungkinan besar saya tidak bakalan lanjut sekolah," ujar Enik dengan penuh syukur.

Kehidupan Asrama yang Mengubah Hidup

Hidup di asrama SRT 2 Banyuwangi membawa perubahan positif bagi Enik. Dari pola tidur yang lebih nyaman hingga pola makan yang teratur tiga kali sehari plus camilan. Fasilitas yang memadai membuatnya bisa fokus pada pendidikan tanpa khawatir tentang kebutuhan dasar.

Toleransi Beragama yang Hangat

Sebagai salah satu siswa minoritas Hindu di sekolah mayoritas Muslim, Enik merasakan langsung praktik toleransi yang nyata. Ia difasilitasi untuk pulang saat Hari Raya Saraswati dan bebas menjalankan sembahyang tiga kali sehari dengan nyaman. Teman-temannya bahkan sering mengingatkannya untuk beribadah dengan canda hangat.

Prestasi dan Cita-Cita Besar

Enik dikenal sebagai siswa rajin yang gemar membaca dan berprestasi. Saat SMP, ia berhasil meraih peringkat dua berturut-turut di kelas. Cita-citanya adalah kuliah di Universitas Brawijaya Malang untuk menjadi desainer, dengan harapan dapat mengangkat derajat keluarganya dan membahagiakan orang tua.

Pengakuan dari Pengajar

Zulfi Wardha Azizah, Guru Bimbingan Konseling, menggambarkan Enik sebagai pribadi istimewa yang pemalu namun mudah bersosialisasi, peduli pada sekitar, dan pandai mengontrol emosi. Sikap rendah hatinya terlihat dari kesediaannya mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Filosofi Pendidikan SRT 2 Banyuwangi

Kepala SRT 2 Banyuwangi, Chitra Arti Maharani, menekankan pentingnya sekolah yang aman dari kekerasan, perundungan, dan intoleransi. Setiap siswa diberi kebebasan beribadah sesuai keyakinannya, dengan siswa Muslim melaksanakan salat berjamaah dan siswa Hindu menjalankan sembahyang tiga kali sehari secara damai.

Fasilitas dan Kapasitas Sekolah

SRT 2 Banyuwangi berdiri di lahan seluas 36.300 meter persegi dengan fasilitas lengkap: empat asrama, 28 ruang tidur, lima ruang kelas, dua laboratorium, perpustakaan, musala, dan ruang makan. Saat ini terdapat 124 siswa dari jenjang SD hingga SMA yang didampingi 22 guru dan 28 tenaga pendidik lainnya.

Kisah Enik Susilowati membuktikan bahwa pendidikan berkualitas dan lingkungan yang toleran dapat mengubah hidup anak-anak kurang mampu. SRT 2 Banyuwangi tidak hanya memberikan pendidikan formal, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang berharga untuk masa depan yang lebih baik.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar