Kronologi Mengerikan Pengeroyokan Mandor TKA di Morowali: Awalnya Cuma Adu Mulut, Berakhir Tewas Bersimbah Darah

- Minggu, 26 Oktober 2025 | 16:00 WIB
Kronologi Mengerikan Pengeroyokan Mandor TKA di Morowali: Awalnya Cuma Adu Mulut, Berakhir Tewas Bersimbah Darah

Insiden Pengeroyokan Tewaskan Mandor TKA di PT FMI Morowali

Morowali, Sulawesi Tengah - Sebuah insiden pengeroyokan terjadi di kawasan industri PT FMI Morowali pada Rabu (22/10/2025). Peristiwa ini mengakibatkan seorang mandor Tenaga Kerja Asing (TKA) tewas setelah dikeroyok sejumlah pekerja lokal.

Penyebab Awal Insiden Pengeroyokan di Morowali

Berdasarkan keterangan saksi mata, insiden berawal dari adu mulut antara korban dan pekerja lokal saat proses pemindahan material. Mandor TKA tersebut diketahui memberikan teguran dengan nada tinggi dan emosional yang memicu kemarahan para pekerja.

Salah satu saksi mengungkapkan, "Mandor yang dikeroyok dikenal sebagai orang kasar. Dia terlebih dahulu memukul seorang helper baru sebelum akhirnya menjadi korban pengeroyokan."

Kronologi Lengkap Insiden PT FMI Morowali

Sumber lain menyebutkan bahwa korban memiliki sikap keras dan arogan terhadap bawahan. Awalnya hanya berupa cekcok verbal, namun eskalasi meningkat menjadi baku hantam yang berakhir dengan pengeroyokan terhadap mandor TKA tersebut.

Korban yang mengalami luka parah dan bersimbah darah langsung dievakuasi ke klinik perusahaan, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Penyelidikan dan Tindak Lanjut Insiden Morowali

Kepolisian Morowali bersama manajemen PT FMI saat ini masih melakukan penyelidikan mendalam terkait insiden tersebut. Sejumlah pekerja yang diduga terlibat telah diamankan untuk proses pemeriksaan lebih lanjut.

Konflik Pekerja Lokal dan TKA di Morowali

Insiden ini kembali menyoroti gesekan antara pekerja lokal dan TKA di kawasan industri Morowali, yang merupakan salah satu pusat produksi nikel terbesar di Indonesia. Pihak keamanan perusahaan telah meningkatkan pengawasan ketat di area pabrik untuk mencegah terjadinya bentrokan susulan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar