Trump Berencana Temui Kim Jong-un di Korsel, Sebut Korut sebagai Kekuatan Nuklir
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap memulai kunjungannya ke Asia. Rencana perjalanan ini mencakup kunjungan ke Malaysia untuk menghadiri KTT ASEAN dan ke Korea Selatan untuk menghadiri KTT APEC.
Trump Ingin Bertemu dengan Kim Jong-un
Dalam pernyataannya, Donald Trump mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, di sela-sela KTT APEC di Korea Selatan. Pertemuan terakhir kedua pemimpin ini terjadi pada tahun 2019.
"Saya ingin (bertemu dengan Kim Jong-un). Dia tahu saya akan ke sana (Korsel)," ujar Trump kepada para wartawan di Gedung Putih, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (25/10). Ia menambahkan, "Saya tidak tahu, saya akan memberi tahu dia, dia tahu saya akan pergi."
Trump juga menyatakan bahwa dirinya memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Kim Jong-un.
Pengakuan Trump atas Status Nuklir Korut
Mengenai status Korea Utara, Trump menyampaikan pandangannya bahwa Korut ingin diakui sebagai negara nuklir. Ia sendiri mengakui bahwa Korea Utara saat ini telah menjadi sebuah kekuatan nuklir.
"Saya pikir mereka (negara) semacam kekuatan nuklir. Ketika Anda bilang mereka harus diakui sebagai kekuatan nuklir, mereka punya banyak senjata nuklir," ungkap Trump.
Peluang dan Persiapan Pertemuan
Laporan media AS sebelumnya mengindikasikan bahwa pejabat pemerintahan Trump secara privat telah mendiskusikan pengaturan untuk pertemuan antara Trump dan Kim Jong-un. Di sisi lain, Menteri Unifikasi Korea, Chung Dong-young, pada Jumat (24/10) menyatakan keyakinannya bahwa kemungkinan pertemuan antara kedua pemimpin tersebut sangat besar selama kunjungan Trump ke Semenanjung Korea.
Meski demikian, seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa pertemuan Trump dan Kim tidak termasuk dalam jadwal resmi perjalanan kali ini.
Kilas Balik Pertemuan Terakhir di DMZ
Pertemuan terakhir Trump dan Kim Jong-un berlangsung pada 2019 di Panmunjom, Joint Security Area (JSA), di Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan Korea Utara dan Selatan. Dalam pertemuan bersejarah itu, Trump menjadi presiden AS pertama yang menginjakkan kaki di wilayah Korea Utara. Namun, pertemuan tersebut gagal mencapai kesepakatan mengenai denuklirisasi Korut dan kompensasi yang akan diterima jika mereka melepaskan senjata nuklir. Sejak saat itu, Korea Utara konsisten mendeklarasikan diri sebagai negara nuklir yang tidak dapat diubah.
Artikel Terkait
Dua Calon Jemaah Haji Asal Soppeng Tertunda Berangkat karena Tidak Laik Terbang
Harga Emas Antam Naik Rp17.000 per Gram, Buyback Tembus Rp2.645.000
Ivan Toney Cetak Hat-trick, Al Ahli Hajar Al Fateh 3-1 di Liga Pro Saudi
31 Pelajar SMP di Gowa Diamankan Polisi Usai Konvoi Bawa Senjata Tajam