Pecah Kongsi di Oposisi Turki: Özgür Özel dan 91 Anggota Parlemen Dirikan Partai Baru

- Selasa, 28 Juli 2026 | 06:00 WIB
Pecah Kongsi di Oposisi Turki: Özgür Özel dan 91 Anggota Parlemen Dirikan Partai Baru

Mantan pemimpin oposisi utama Turki, Özgür Özel, secara resmi meninggalkan Partai Rakyat Republik (CHP) bersama 91 anggota parlemen untuk mendirikan partai baru bernama Yeni Parti (Partai Baru). Langkah ini secara dramatis mengubah peta politik dan merombak struktur kekuasaan oposisi di Turki tanpa melalui pemilu.

Perpecahan ini dipicu oleh keputusan Pengadilan Banding Regional Ankara pada Mei 2026 yang membatalkan hasil kongres CHP November 2023. Putusan tersebut mencopot Özel dari kursi ketua umum dan mengembalikan mantan pemimpin lama yang kontroversial, Kemal Kılıçdaroğlu. Özel dan para loyalisnya mengecam putusan itu sebagai bentuk "kudeta yudisial" yang diatur oleh pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdoğan untuk melumpuhkan kubu oposisi. Kebuntuan internal semakin meruncing setelah Kılıçdaroğlu menolak tuntutan untuk mengadakan kongres luar biasa guna pemilihan ulang ketua umum, memaksa faksi Özel mengambil langkah keluar dari partai.

Eksodus massal ini langsung menjungkirbalikkan komposisi kursi di Majelis Agung Nasional Turki yang beranggotakan 600 kursi. Yeni Parti, dengan kekuatan 91 kursi, langsung melesat menjadi fraksi terbesar kedua di parlemen setelah partai berkuasa AKP yang menguasai 277 kursi. Secara otomatis, partai baru bentukan Özel kini memegang predikat sebagai pemimpin oposisi utama. Sementara itu, CHP partai sekuler tertua di Turki yang didirikan oleh Mustafa Kemal Atatürk merosot tajam dari 135 kursi menjadi hanya 44 kursi. Kehilangan hampir dua pertiga anggotanya membuat CHP terlempar ke posisi keempat, bahkan di bawah partai pro-Kurdish DEM Parti yang memiliki 56 kursi.

Berbagai jajak pendapat awal menunjukkan bahwa basis pemilih tradisional CHP cenderung akan mengikuti Özel ke Yeni Parti, meninggalkan bendera lama mereka yang sudah berusia seabad. Di satu sisi, kehadiran Yeni Parti membawa wajah baru yang lebih agresif melawan pemerintah. Namun, para analis politik menilai bahwa terpecahnya suara kubu oposisi justru berpotensi menguntungkan posisi politik Erdoğan untuk memperpanjang kekuasaannya. Langkah ini juga memicu pertanyaan besar mengenai nasib politik Wali Kota Istanbul, Ekrem İmamoğlu rival terkuat Erdoğan yang saat ini masih dipenjara atas tuntutan bermotif politik apakah ia dan loyalis daerahnya akan sepenuhnya mengalihkan dukungan dari CHP ke Yeni Parti.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags