Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen pada Juli 2026 bukanlah sekadar angka yang tidak berubah. Di baliknya, terdapat strategi untuk menjaga rupiah tanpa hanya mengandalkan kenaikan suku bunga. Nilai tukar rupiah masih tertekan, berada di sekitar Rp17.975 per dolar AS pada 23 Juli 2026, hampir sama dengan akhir Juni.
Bank Indonesia memperluas kebijakan untuk mendorong investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas rupiah, memperdalam pasar uang dan valuta asing, serta memperbaiki penyebaran likuiditas perbankan. Langkah ini menunjukkan bahwa menjaga rupiah tidak cukup hanya dengan menaikkan suku bunga.
Ibarat mempertahankan rumah saat badai, menaikkan suku bunga seperti memperkuat satu tiang utama. Namun, rumah tidak akan aman jika atap bocor atau saluran air tersumbat. Di dalam ekonomi, aktivitas perbankan masih bergerak cepat. Kredit tumbuh 12,67 persen secara tahunan pada Juni 2026, meningkat dari 11,51 persen bulan sebelumnya. Dana pihak ketiga tumbuh 10,21 persen. Artinya, perbankan memiliki sumber dana, namun tantangannya adalah memastikan dana mengalir ke kegiatan produktif.
Di sisi lain, suku bunga tidak bisa terus dinaikkan. Tiang yang terlalu kuat justru mempersempit ruang bagi penghuni rumah.
Harga dari Stabilitas
Kenaikan suku bunga membuat aset keuangan rupiah lebih menarik, membantu menahan keluarnya modal asing, menjaga nilai tukar, dan mengendalikan inflasi. Namun, kenaikan bunga juga meningkatkan biaya dana perbankan dan pada akhirnya memengaruhi bunga kredit. Di sinilah dilema kebijakan moneter. Rupiah perlu dijaga karena pelemahan berlebihan meningkatkan biaya impor. Namun, jika rupiah dijaga dengan bunga tinggi, sektor usaha dan rumah tangga membayar harga stabilitas melalui bunga kredit yang lebih mahal. Mempertahankan BI Rate 5,75 persen menunjukkan upaya agar ongkos itu tidak hanya dibebankan kepada peminjam domestik.
Bank Indonesia memperluas pertahanan dengan memperkuat bagian lain dari "rumah ekonomi Indonesia". Kebijakan pendalaman pasar valuta asing membuat transaksi valas lebih lancar. Ketika pasar lebih likuid, satu transaksi besar tidak mudah mengguncang harga. Instrumen lindung nilai juga membantu perusahaan menghadapi perubahan kurs. Pelaku usaha dapat mempersiapkan "payung" sebelum hujan nilai tukar datang.
Menahan suku bunga bukan tanpa risiko. Jika tekanan terhadap rupiah tetap tinggi, bunga yang tidak dinaikkan dapat mengurangi daya tarik aset rupiah. Jika inflasi mendekati batas atas sasaran atau modal asing keluar, pasar bisa mempertanyakan respons kebijakan. Namun, menaikkan suku bunga juga tidak selalu efektif jika tekanan rupiah berasal dari gejolak global, harga energi, atau ketidakpastian fiskal. Dalam kondisi itu, kenaikan bunga menambah beban domestik tanpa menghilangkan sumber tekanan. Persoalannya bukan memilih antara menaikkan atau menahan bunga, melainkan menentukan kombinasi kebijakan dengan biaya paling kecil bagi perekonomian.
Jangan Bergantung pada Tamu
Upaya menarik investasi portofolio asing membantu menopang rupiah, tetapi dana ini mudah bergerak. Ia datang saat imbal hasil menarik, lalu pergi saat risiko global meningkat. Investasi portofolio asing ibarat tamu yang membantu meramaikan rumah, tetapi pemilik rumah tidak bisa menggantungkan seluruh biaya rumah tangga kepada tamu yang sewaktu-waktu pulang. Stabilitas rupiah membutuhkan sumber devisa yang lebih kuat dan tahan lama, seperti ekspor bernilai tambah, pariwisata, investasi langsung, dan industri domestik yang produktif. Kebijakan keuangan dapat meredam guncangan, tetapi tidak menggantikan fondasi ekonomi riil.
Keputusan mempertahankan BI Rate menegaskan bahwa beban menjaga rupiah perlu dibagi ke berbagai instrumen kebijakan. Keberhasilan bauran kebijakan tercermin dari inflasi terkendali, rupiah tidak bergejolak berlebihan, likuiditas mengalir merata, dan pembiayaan produktif tetap tumbuh. Suku bunga akan selalu menjadi tiang utama, tetapi rumah yang kokoh tidak berdiri di satu tiang saja. Pertanyaannya, apakah instrumen lain sudah cukup kuat menahan badai tekanan global, atau masyarakat akan kembali diminta membayar biaya stabilitas melalui cicilan dan biaya usaha yang semakin mahal?
Artikel Terkait
Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp17.972, Pasar Cermati Dinamika Kepemimpinan BI
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Rupiah Tertekan Mendekati Rp 18 Ribu
Rupiah Terperosok ke Rp17.963, Tarif Impor AS dan Defisit Dagang Jadi Beban
IHSG Anjlok 1,9 Persen ke 6.196, Rupiah Ikut Tertekan