Seorang anak laki-laki berdiri tegak di ujung perahu panjang, menari dengan penuh percaya diri saat perahu melaju kencang di atas air. Video berdurasi belasan detik itu membanjiri linimasa TikTok pada awal Juli 2025. Dalam hitungan hari, ia ditonton jutaan kali, ditiru oleh atlet, artis, hingga pejabat publik di berbagai negara. Warganet menamainya Aura Farming.
Anak itu adalah Rayyan Arkan Dikha. Perahu yang ditumpanginya adalah bagian dari Pacu Jalur, tradisi balap perahu panjang yang telah berusia lebih dari satu abad di Kuantan Singingi, Riau. Seketika, tradisi yang sebelumnya hanya dikenal di kalangan masyarakat lokal itu berubah menjadi bahasa visual bersama bagi jutaan pengguna internet di seluruh dunia.
Fenomena ini menarik untuk dibedah bukan hanya karena viralitasnya, tetapi karena ia menunjukkan bagaimana media digital mampu menjembatani budaya lokal dengan budaya populer global. Di baliknya, terbuka pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dan siapa yang berisiko kehilangan kendali atas cerita budayanya sendiri.
Dari Sungai Kuantan ke For You Page Dunia
Pacu Jalur bukan sekadar lomba dayung. Ia adalah ritual sarat makna, lengkap dengan prosesi adat seperti mandi jalur dan doa selamat sebelum perlombaan. Anak yang menari di ujung perahu, yang kini dikenal sebagai gerakan Aura Farming, sejatinya memiliki fungsi tradisional untuk membakar semangat para pendayung.
Begitu video itu diunggah ke TikTok, ia langsung masuk ke dalam logika algoritma For You Page yang menilai popularitas dari suka, komentar, dan lama tonton. Dari sinilah proses remediasi budaya terjadi. Tradisi yang tadinya hidup sebagai pengalaman komunal di ruang fisik, kini hadir sebagai tontonan yang dipotong-potong, diberi keterangan lucu, disisipi musik tren, lalu diunggah ulang oleh ribuan akun.
Prosesnya cepat dan partisipatif. Setiap orang yang menirukan gerakan itu klub sepak bola, musisi, atau figur publik ikut menyebarkan sekaligus mengadaptasi pesan budaya tersebut ke dalam konteks mereka sendiri. Pola penyebaran semacam ini membuat jangkauan Pacu Jalur jauh melampaui promosi pariwisata konvensional.
Viral, Tapi untuk Siapa?
Di balik euforia global, ada pertanyaan mendasar yang jarang dibahas. Siapa yang sesungguhnya diuntungkan dari viralitas ini, dan siapa yang berhak mengendalikan narasinya?
Representasi Pacu Jalur di ruang digital kini banyak ditentukan oleh algoritma dan pihak-pihak yang punya akses teknologi, bukan sepenuhnya oleh masyarakat Kuantan Singingi sebagai pemilik tradisi. Ada ketimpangan literasi digital antara kreator lokal dan konsumen global yang hanya menonton dari layar ponsel, tanpa pernah tahu makna mandi jalur atau doa selamat yang mengiringi setiap perlombaan.
Ini bukan berarti viralitas itu buruk. Dampaknya nyata: kunjungan wisatawan mancanegara ke Riau meningkat, dan ekonomi masyarakat ikut terdongkrak. Namun, ada risiko tradisi yang penuh kedalaman filosofis dan spiritual tereduksi menjadi sekadar gerakan tari anak kecil yang lucu untuk ditiru, kehilangan konteks sakralnya di tengah gempuran format video quick culture yang serba singkat.
Media Digital, Ancaman atau Mitra?
Pertanyaan besar dari fenomena ini bukanlah apakah media digital baik atau buruk bagi budaya lokal, melainkan bagaimana ia dikelola. Media digital telah terbukti bisa menjadi instrumen pelestarian, bukan hanya penyebar. Platform seperti TikTok bisa dimanfaatkan untuk dokumentasi, revitalisasi, dan distribusi narasi budaya tradisional secara kreatif, bahkan membuka jalur diplomasi budaya lintas negara.
Momentum viralitas Pacu Jalur idealnya tidak berhenti sebagai tren belasan detik yang cepat dilupakan. Ia bisa menjadi titik awal untuk memperkenalkan tradisi ini secara lebih substansial, lewat kolaborasi yang melibatkan pemerintah daerah, komunitas budaya, konten kreator, dan sektor pariwisata secara bersamaan. Dengan begitu, Pacu Jalur bisa dikenal dunia tanpa harus kehilangan jiwa dan sakralitasnya.
Pacu Jalur akan terus relevan bukan karena ia sempat viral sesaat, tetapi jika masyarakat, pemerintah, dan para konten kreator mampu menjaga keseimbangan antara kreativitas digital yang membuatnya menjangkau dunia, dan penghormatan terhadap akar budaya serta nilai komunal yang menjadi jiwa dari tradisi itu sendiri.
Artikel Terkait
Viral, Bripka Asril Ikut Lomba Pacu Jalur di Kuansing sebagai Timbo Ruang