Serangan Iran Guncang Strategi Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

- Selasa, 30 Juni 2026 | 09:50 WIB
Serangan Iran Guncang Strategi Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Serangan Iran yang terus menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia selama empat bulan terakhir memicu perdebatan baru tentang keberlanjutan strategi pangkalan militer besar dan permanen di dekat Iran. Kekhawatiran ini bahkan berpotensi memengaruhi penempatan pasukan AS di kawasan lain dunia.

Mantan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Jenderal Kenneth F. McKenzie Jr., menjadi salah satu tokoh yang paling vokal menyerukan perubahan besar. Ia mengaku telah lama mendorong pemindahan aset militer seperti pesawat tempur dan sistem persenjataan lebih jauh ke barat, menjauhi jangkauan Iran.

“Yang perlu dilakukan adalah menyebarkan jaringan pangkalan itu jauh ke arah barat, sehingga Iran akan semakin sulit mendeteksi keberadaan kita dan semakin sulit menjangkau kita,” kata McKenzie dalam konferensi virtual yang digelar Jewish Institute for National Security of America (JINSA), Senin lalu.

Ia mencontohkan Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, markas depan CENTCOM, sebagai “monumen bagi cara berpikir lama”. Menurutnya, era perang hibrida modern telah mengurangi nilai strategis pangkalan statis yang besar.

“Kita harus mampu terus bergerak, menyamarkan lokasi, dan memahami apa yang mengawasi kita dari luar angkasa,” ujar McKenzie. “Pelajaran itu berlaku di mana pun dan dalam konflik apa pun.”

McKenzie merekomendasikan Israel sebagai lokasi utama pemusatan perlengkapan militer AS yang paling bernilai, mengingat jaringan pertahanan udaranya yang kuat. Namun, ia menilai masih ada ruang mempertahankan kehadiran di sejumlah titik strategis di Teluk Persia, dengan fokus memperkuat pertahanan antirudal dan antidrone.

Ia menjelaskan, pangkalan-pangkalan di Teluk Persia awalnya dirancang untuk melindungi kawasan minyak dari Uni Soviet pada era Perang Dingin, lalu beralih fungsi untuk operasi kontra-pemberontakan pasca-11 September 2001. “Apa yang kita miliki saat ini adalah warisan keputusan masa lalu. Tak seorang pun yang waras akan menempatkan markas depan CENTCOM hanya sekitar 100 mil dari Iran,” katanya.

Mitos Pangkalan Militer

David Vine, antropolog yang mengkaji jaringan militer AS, mengatakan perang melawan Iran telah memicu evaluasi mendalam terhadap pandangan konvensional yang keliru tentang pangkalan militer. “Kerusakan besar yang ditimbulkan Iran puluhan korban jiwa dan kerugian infrastruktur miliaran dolar telah membuka mata semua orang mengenai mitos bahwa pangkalan itu defensif, efektif, dan diperlukan,” ujarnya.

Menurut Vine, instalasi tersebut justru mendorong aksi ofensif dengan biaya besar yang ditanggung personel, pembayar pajak, dan negara tuan rumah. Ia menyerukan penutupan dan konsolidasi pangkalan di luar negeri serta pemulangan sebagian besar pasukan.

Serangan Iran, yang sebagian besar menggunakan rudal dan drone, telah menghantam sejumlah instalasi penting, termasuk pusat operasi darurat di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait. Serangan pesawat tempur F-5E Iran terhadap Camp Buehring di Kuwait menunjukkan bahwa aset konvensional tua pun masih menjadi ancaman.

Isu Utama dalam Perundingan

Masa depan kehadiran militer AS menjadi isu utama dalam perundingan deeskalasi antara AS dan Iran. Butir keempat nota kesepahaman yang ditandatangani Presiden Donald Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian menyebutkan komitmen AS menarik pasukan dari wilayah dekat Iran dalam 30 hari setelah kesepakatan final.

Bentuk penarikan masih belum pasti, tergantung kesepakatan komprehensif. Namun, The Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan pemindahan operasi militer ke barat, dengan Israel sebagai kandidat utama. Kerusakan di Naval Support Activity Bahrain diperkirakan mencapai 400 juta dolar AS, belum termasuk kerusakan lain dan biaya amunisi.

Michael Rubin, peneliti senior di American Enterprise Institute, menilai perang Iran seharusnya mengakhiri perdebatan. “Secara diplomatik, sejak dulu merupakan kebodohan menempatkan pangkalan di negara seperti Turki dan Qatar, karena mereka menjadikan kehadiran AS sebagai kartu bebas hukuman,” katanya.

Rubin menambahkan, dengan kedalaman strategis Siprus dan Yunani serta kapal LHD yang canggih, tidak ada lagi kebutuhan mempertahankan separuh kehadiran garis depan. “Dengan menempatkan pasukan di Kuwait dan Qatar, kita justru meningkatkan daya tawar Iran.”

Ia melihat adaptasi serupa di kawasan lain, seperti keberadaan pasukan AS di Darwin, Australia, yang memberikan kemampuan serangan balasan jika terjadi perang dengan China. Namun, Rubin mengusulkan langkah radikal: “Mungkin sudah saatnya membongkar seluruh birokrasi Pentagon dan membangunnya kembali berdasarkan pelajaran perang modern dari Ukraina dan Israel.”

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags