Pasar saham Indonesia membutuhkan konsistensi kebijakan dan stabilitas makroekonomi untuk mendorong pemulihan valuasi saham. Analis UOB Kay Hian dalam riset terbaru menilai bahwa perbaikan sentimen investor saja tidak cukup tanpa fondasi fundamental yang kuat.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia tahun ini, turun 34,19 persen secara year to date ke level 5.691 pada perdagangan intraday Selasa (30/6/2026). Meski sempat pulih dari level terendah awal Juni, kenaikan tersebut lebih banyak didorong oleh sentimen ketimbang fundamental.
“Meningkatnya kredibilitas kebijakan, meredanya kekhawatiran terhadap regulasi, optimisme terkait keputusan MSCI, serta berkurangnya risiko geopolitik telah menopang kenaikan pasar. Namun, agar penguatan saham dapat berlanjut secara berkelanjutan, diperlukan konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan serta stabilitas makroekonomi,” tulis analis UOB.
Menurut UOB Kay Hian, otoritas pasar modal Indonesia memiliki waktu hingga November untuk membuktikan efektivitas reformasi terkait transparansi dan tata kelola. Langkah ini penting untuk mencegah risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market oleh MSCI.
Keberhasilan pemerintah dalam memperkuat tata kelola pasar, menjaga stabilitas ekonomi, serta menjalankan kebijakan secara konsisten dinilai dapat membuka peluang re-rating bagi saham Indonesia. Dengan katalis tersebut, perusahaan sekuritas itu mempertahankan target IHSG akhir 2026 di level 7.500.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Melemah ke 5.801, Mayoritas Sektor Tertekan
IHSG Anjlok 3 Persen di Awal Perdagangan, Kapitalisasi Pasar Tergerus
MNC Asia Holding Catat Laba Bersih Rp1,4 Triliun di 2025, RUPS Setujui Private Placement
Jakarta Perkuat Ketahanan Pesisir dengan Konservasi Mangrove di Muara Angke