Suasana di tubuh PBNU belakangan ini memang cukup panas. Menanggapi polemik internal yang terjadi, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, akhirnya angkat bicara. Seruannya ditujukan kepada seluruh Nahdliyin dan para pengurus di semua tingkatan, dari wilayah hingga ranting.
Intinya, ia meminta semua pihak untuk tetap tenang. Jangan buru-buru bereaksi.
"Saya mengimbau kepada seluruh jajaran pengurus di semua tingkatan mulai dari Pengurus Wilayah (PW) hingga Pengurus Anak Ranting (PAR) serta seluruh warga Nahdliyin di mana pun berada, untuk tetap tenang, menjaga persatuan, dan mempererat tali silaturahmi," kata Gus Yahya pada Sabtu (13/12).
"Mari kita bersama-sama mendoakan agar dinamika ini dapat segera kita lalui dengan damai."
Gus Yahya paham betul soal isu pergantian pimpinan yang beredar. Karena itu, ia menginstruksikan hal yang cukup tegas. Untuk sementara waktu, para pengurus diminta tak usah mengindahkan instruksi apa pun yang datang dari pihak yang menyebut diri sebagai Pejabat Ketua Umum PBNU.
"Saya juga meminta agar seluruh pengurus dan warga NU untuk sementara waktu tidak mengindahkan instruksi yang dikeluarkan oleh pihak yang mengatasnamakan Pejabat Ketua Umum PBNU, demi menghindari kebingungan dan menjaga keutuhan organisasi hingga tercapainya islah," tegasnya.
Lantas, apa dasarnya? Menurut Gus Yahya, posisi Ketua Umum tidak bisa begitu saja diturunkan lewat sebuah Rapat Pleno. Mekanisme itu, katanya, tidak sesuai aturan main.
"Mekanisme pemberhentian pimpinan di tengah masa jabatan hanya dapat dilakukan melalui forum tertinggi, yaitu Muktamar Luar Biasa (MLB), dan harus didasari oleh adanya pelanggaran berat yang terbukti," terang Gus Yahya. Jadi, AD/ART organisasi sudah jelas mengaturnya.
Keputusan Rapat di Hotel Sultan
Polemik ini berawal dari sebuah rapat di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, pada Selasa (9/12) lalu. Dalam forum yang dipimpin Rais Syuriyah PBNU Mohammad Nuh itu, rapat pleno menetapkan Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum.
Mohammad Nuh kemudian menjelaskan bahwa KH Zulfa akan memimpin PBNU untuk sisa masa bakti kepengurusan saat ini. Tugas-tugas Ketua Umum akan diembannya hingga Muktamar Nahdlatul Ulama digelar nanti, yang rencananya jatuh pada 2026.
Rapat pleno itu sendiri sebelumnya dibuka oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa forum tersebut adalah upaya untuk menguatkan supremasi Syuriyah dalam struktur PBNU. Penguatan peran lembaga itu, disebutnya, merupakan komitmen bersama agar fungsinya berjalan sesuai khittah organisasi.
Artikel Terkait
Puan Minta Dugaan Intimidasi Dokter Icha Diselidiki Tuntas, Termasuk Jika Ada Kader PDIP Terlibat
Bupati Sangihe: Penolakan Tambang Tak Semata karena Lingkungan, Ada Kepentingan Tambang Ilegal
Pramono Anung Resmikan Gedung Baru Kejari Jakarta Utara, Apresiasi Kolaborasi Forkopimda
Puan Maharani Respons Safari Politik Jokowi: Hak Semua Warga, Tapi Jaga Kondusivitas