Islah Bahrawi Beberkan Cerita Gus Yaqut: Jokowi Bawa Dito ke Arab Saudi Bahas Kuota Tambahan Haji

- Jumat, 16 Januari 2026 | 10:00 WIB
Islah Bahrawi Beberkan Cerita Gus Yaqut: Jokowi Bawa Dito ke Arab Saudi Bahas Kuota Tambahan Haji

Isu kuota haji 2024 kembali memanas. Kali ini, sorotan justru mengarah ke Presiden Joko Widodo. Islah Bahrawi, sahabat dekat mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan.

Dalam sebuah podcast, Islah menyebut ada indikasi keterlibatan Jokowi dalam pembahasan kuota tambahan haji dengan Arab Saudi. Yang menarik, menurut cerita yang dia dengar langsung dari Gus Yaqut, sang menteri agama justru tak diajak dalam pertemuan krusial itu.

"Kata Gus Yaqut begini ketika itu, bahwa Indonesia mendapatkan kuota tambahan 20.000 dari Muhammad bin Salman. Tapi sampai saat ini saya tidak dilibatkan dalam proses itu," ujar Islah, mengutip perkataan Yaqut.

Lalu, siapa yang diajak presiden? Menurut Islah, Jokowi malah membawa serta Dito Ariotedjo, yang kala itu menjabat Menpora. Belakangan publik tahu, Dito adalah menantu dari Fuad Hasan Masyhur, pemilik biro perjalanan haji ternama Maktour. Fakta ini tentu saja menimbulkan banyak tanya.

Tak cuma Dito. Dalam rombongan itu juga ikut Menteri BUMN Erick Thohir dan Mensetneg Pratikno. Pertemuan dengan Raja Salman bin Abdul-Aziz Al Saud itu sendiri terjadi tahun 2023, membahas penambahan kuota untuk jamaah Indonesia.

Nah, di sisi lain, Islah juga mengungkap niatan Yaqut untuk bersaksi di hadapan Pansus Haji DPR. Rencananya, dia mau menjelaskan soal pembagian kuota tambahan 20.000 itu yang dinilai banyak pihak janggal. Tapi niat itu urung.

Kenapa? Rupanya, rencana itu dicegah. Menurut Islah, Presiden Jokowi menugaskan Yaqut untuk menggantikan Menhan Prabowo Subianto menghadiri konferensi di Prancis. Awalnya cuma tiga hari, tapi tiba-tiba diperpanjang jadi hampir sebulan.

"Putar-putar di Eropa, karena dia belum dapat sinyal untuk segera kembali. Karena kalau dia kembali, dia tetap akan dipanggil oleh Pansus," jelas Islah.

Cerita ini, tentu saja, menambah panjang daftar pertanyaan seputar transparansi pengelolaan haji. Apalagi dengan posisi-posisi strategis yang terlibat. Publik kini menunggu klarifikasi lebih lanjut dari pihak-pihak yang disebutkan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar