Iran Kecam AS di Sidang DK PBB Soal Perlindungan Anak di Konflik

- Selasa, 03 Maret 2026 | 07:05 WIB
Iran Kecam AS di Sidang DK PBB Soal Perlindungan Anak di Konflik

Di tengah memanasnya ketegangan di Timur Tengah, Amerika Serikat justru memimpin sebuah pertemuan penting di Dewan Keamanan PBB. Topiknya menyentuh: nasib anak-anak di daerah perang. Ironisnya, forum itu sendiri langsung menjadi ajang kecaman. Iran tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerang AS, menyoroti serangan mematikan yang baru-baru ini menghantam sebuah sekolah di wilayahnya.

Pertemuan yang digelar Selasa (3/3/2026) itu dipimpin langsung oleh Ibu Negara Melania Trump. Menurut laporan Aljazeera, dia mendesak dunia internasional untuk lebih serius menangani kondisi tragis anak-anak yang terjebak dalam kawasan konflik. Suasana di forum PBB itu sendiri tegang, mencerminkan perang yang sedang berkecamuk antara AS-Israel dan Iran.

Tak lama sebelum sesi dimulai, kemarahan Iran sudah meledak. Duta Besarnya untuk PBB, Amir Saeid Iravani, dengan lantang menyebut langkah AS sebagai hal yang memalukan dan penuh kemunafikan.

“Bagaimana mungkin mereka mengadakan pertemuan tentang perlindungan anak, sementara di saat yang sama melancarkan serangan ke kota-kota padat penduduk kami?” ujarnya kepada para wartawan yang berkerumun.

“Bagi Amerika Serikat, 'melindungi anak-anak' dan 'menjaga perdamaian' jelas punya arti yang sangat berbeda dari yang tertulis dalam Piagam PBB,” tambah Iravani, menyiratkan kemunafikan yang dalam.

Kecaman itu bukan tanpa alasan. Media pemerintah Iran melaporkan, serangan udara pada Sabtu sebelumnya telah menghancurkan sebuah sekolah perempuan di Iran selatan. Korban jiwa disebutkan mencapai sedikitnya 165 orang, dengan puluhan lainnya luka-luka. Kebanyakan adalah anak-anak.

Di sisi lain, militer Israel menyatakan tidak mengetahui adanya serangan di daerah yang dimaksud. Sementara itu, pihak militer AS hanya memberikan tanggapan singkat: mereka sedang menyelidiki laporan-laporan yang beredar. Sebuah pernyataan yang kontras dengan duka dan kemarahan yang meluas di Teheran.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar