Dandim Labuhanbatu Bantah Oknum TNI Curi 16 Lembu

- Selasa, 30 Juni 2026 | 10:12 WIB
Dandim Labuhanbatu Bantah Oknum TNI Curi 16 Lembu

Komandan Kodim 0209/Labuhanbatu, Letkol Kav Hanung Kaptiaji, membantah adanya keterlibatan oknum TNI dalam pencurian 16 ekor lembu di Labuhanbatu. Tuduhan itu muncul setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan sejumlah pria dengan narasi menyebut mereka anggota TNI yang mencuri lembu.

"Tidak ada keterlibatan TNI dalam rangka mencuri, mengambil, yang dinarasikan itu satu kompi mengambil mau curi lembu, itu salah," kata Hanung saat dihubungi, Senin (29/6).

Video tersebut direkam pada Mei 2026. Saat itu di Desa Sei Siarti, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, terjadi keributan antarwarga terkait dugaan pencurian lembu. Situasi memanas hingga melibatkan senjata tajam.

Hanung menjelaskan bahwa di lokasi memang terdapat anggota TNI, namun mereka tidak terlibat dalam kasus pencurian. Keberadaan mereka di sana sudah lama, jauh sebelum kasus pencurian lembu muncul.

"Iya (anggota TNI di sana) jauh sebelum konflik ini. Ada pengamanan mungkin ada perbantuan, ada saudaranya siapa yang ada di situ, minta bantuan. Kemudian ada lagi yang mungkin punya lahan di situ, orang-orang ini yang kebetulan adalah tentara, infonya demikian. Tetapi tidak dalam rangka mencuri itu," imbuh Hanung.

Jumlah anggota TNI di lokasi pun tidak sampai satu kompi seperti yang disebut dalam video. Hanung mengaku tidak mengenali pria-pria dalam video yang jumlahnya lebih dari dua orang.

"Sekarang saya akan periksa yang pengamanan yang infonya saya dapat hanya dua orang itu, yang sempat dinarasikan berbondong-bondong orang. Itu juga saya tanya, ini siapa? Ini siapa? Nah ini yang kami tahu adalah di wilayah itu ada dua orang yang melaksanakan pengamanan di luar daya Kodim yang sedang kami cek siapa," ucap Hanung.

Senapan Bius

Hanung juga membantah adanya senapan milik TNI di dalam truk. Ia mengatakan senapan yang ditemukan adalah senapan bius untuk lembu.

Pihak kepolisian disebut telah turun ke lokasi sebelum konflik terjadi. Namun, petugas tidak bisa masuk ke tempat kejadian perkara karena diadang oleh beberapa warga menggunakan parang.

"Sebelum kejadian, itu polisi sudah turun karena berdasarkan laporan, dia kan bertikai kedua belah pihak ini. Kemudian ada polisi yang berusaha untuk mencari TKP-nya di mana, sapinya di mana. Infonya tidak bisa masuk dikarenakan diadang oleh beberapa warga yang tidak tahu kita siapa, menggunakan parang dan sebagainya, sehingga tidak masuk ini," ujar Hanung.

"Babinsa, Bhabinkamtibmas, melihat situasi itu apakah perlu ada perbantuan keamanan dan sebagainya," lanjut Hanung.

Akan Tindak Jika Terbukti

Hanung menegaskan akan menindak prajuritnya jika benar-benar terlibat dalam kasus pencurian tersebut. Namun, hingga saat ini belum ada laporan yang menyebut keterlibatan mereka.

"Kalau ini dirasa memang ada kedua belah pihak itu tahu siapa kenal, itu akan kita cari. Tapi sampai dengan hari ini tidak ada itu, tidak ada yang menyebutkan 'Oh ini Pak, saya kenal dengan A, dengan B', itu tidak ada," ujar Hanung.

Kasus pencurian tersebut saat ini telah masuk persidangan. Hanung mengatakan jika dalam persidangan ada nama prajurit TNI yang disebut, ia akan menelusurinya.

"Biarkan sidang ini mereka berjalan. Seandainya ada orang TNI AD di situ, mereka akan menyebutkan itu, ada saya kenal TNI AD akan pegang siapa orang itu. Tapi untuk saya sampaikan isu 16 lembu atau satu kompi itu tidak ada," tutur Hanung.

Tidak hanya dari warga, laporan polisi juga belum menyebut adanya keterlibatan oknum TNI dalam kasus ini.

"Sampai dengan sekarang tidak ada itu," pungkas Hanung.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags