IHSG Anjlok 3 Persen, Dipicu Minimnya Katalis Positif dan Aksi Jual Asing

- Selasa, 30 Juni 2026 | 11:06 WIB
IHSG Anjlok 3 Persen, Dipicu Minimnya Katalis Positif dan Aksi Jual Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok pada perdagangan Selasa (30/6). Hingga pukul 09.35 WIB, indeks anjlok 175,95 poin atau 3,02 persen ke level 5.644,84, setelah sempat dibuka di posisi 5.801,45.

Tekanan jual mendominasi sejak awal sesi. IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 5.811,67, namun kemudian terus melemah hingga mencapai titik terendah di 5.644,63.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, mengatakan pelemahan hari ini dipicu minimnya katalis positif. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena belum ada rilis data makroekonomi domestik, sementara sejumlah indikator penting seperti inflasi, neraca perdagangan, dan indeks PMI manufaktur baru akan diumumkan pada 1 Juli.

“Di sisi lain kita melihat prospek perdagangan terakhir AS dan Iran setelah kedua negara ini saling melancarkan serangan militer yang akan diakibatkan terjadi perbedaan tafsir, kepercayaan perdagangan khususnya sedikit dari Selat Hormuz,” kata Nafan saat dihubungi kumparan.

Nafan juga menyoroti masih derasnya aksi jual asing (foreign sell) di pasar saham Indonesia yang secara kumulatif telah melampaui Rp 80 triliun. “Ibaratnya IHSG itu sudah diguyur karena kalau secara bobot indeks kita, ya, bobot indeks Indonesia misalnya di MSCI saja sudah menurun di 0,45 persen,” ucapnya.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai sentimen hari ini lebih dipengaruhi oleh sikap wait and see investor terhadap hasil penilaian dari lembaga pemeringkat S&P. “Belum lagi memang situasi dan kondisi dalam negeri yang tidak kunjung membaik. Amerika dan Iran, mulai kembali pembicaraan, namun kita justru masih seperti enggan untuk berinvestasi,” ujar Nico.

Ia mengungkapkan, meski pembicaraan antara AS dan Iran mulai kembali berlangsung dan mayoritas bursa saham Asia bergerak menguat, IHSG justru terkoreksi tajam. “Itu artinya, ada yang salah dengan kebijakan kita, sebuah kebijakan yang harus diperbaiki, tapi juga memikirkan posisi kita sebagai Emerging Market, yang suka atau tidak suka masih membutuhkan investor asing,” tutur Nico.

Ia menilai, perubahan kebijakan tetap diperlukan, tetapi sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang mampu menjaga kepercayaan pasar tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap IHSG. “IHSG secara jangka pendek masih akan mengalami tekanan dengan rentang 5.520 hingga 5.740,” sebut Nico.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags