Kuswantoro (27), seorang tunanetra asal Pedagung, Pemalang, Jawa Tengah, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Lahir dari keluarga petani sederhana, ia kini menjadi mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berkat beasiswa ADik Disabilitas.
Orang tuanya, Tamsir dan almarhumah Warni, awalnya tidak mampu membiayai kuliah. Namun, mereka terus mendorong Kuswantoro untuk melanjutkan pendidikan. "Harapan mereka, paling tidak ada satu anak yang bisa kuliah dan menjadi guru," kenangnya.
Impian menjadi guru pendidikan luar biasa semakin kuat setelah ia bertemu mahasiswa Praktik Kependidikan UNY di sekolahnya, SLB Yaketunis Yogyakarta. Kesempatan kuliah terbuka saat ia lolos Jalur Mandiri Prestasi Unggul dan memperoleh Beasiswa ADik, yang membebaskan biaya UKT dan memberikan bantuan biaya hidup.
"Arti beasiswa ini sangat besar. Uang hasil olahraga yang sebelumnya untuk biaya kuliah sekarang bisa saya gunakan membantu keluarga dan menabung untuk masa depan," ujar Kuswantoro.
Mahasiswa Berprestasi di Olahraga dan Akademik
Di sela kuliah, Kuswantoro aktif di cabang atletik dan goalball. Berbagai prestasi dari tingkat provinsi hingga nasional telah diraihnya. Prestasi itu pula yang mengantarkannya ke UNY. Meski sibuk, ia disiplin membagi waktu sehingga IPK-nya mencapai 3,58. Ia juga meraih penghargaan Mahasiswa Berprestasi UNY Kategori Disabilitas.
Tantangan Adaptasi di Kampus
Menurut Kuswantoro, tantangan terbesar bukanlah keterbatasan penglihatan, melainkan adaptasi di lingkungan perguruan tinggi. Beruntung, suasana belajar di UNY inklusif. "Dosen dan teman-teman selalu memberikan solusi. Mereka membantu saya memahami materi," katanya. Dosen bahkan mengubah materi bergambar menjadi teks deskripsi agar bisa diakses dengan pembaca layar. Teman-teman juga sukarela mendeskripsikan materi visual.
Rencana ke Depan
Setelah lulus S1, Kuswantoro berencana melanjutkan ke Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) atau magister Pendidikan Luar Biasa. Alumni MAN 2 Sleman ini ingin berkontribusi bagi pendidikan inklusif di Indonesia. "Jangan malu dengan kondisi yang dimiliki. Hambatan pasti ada, tetapi semuanya memiliki solusi. Terus semangat belajar, manfaatkan beasiswa, dan yakinlah setiap orang punya peluang sukses," pesannya.
Artikel Terkait
Narasi Media Sosial Sorot Karier Agus Wirahadikusumah dan Dugaan Kasus Dana Kostrad
Istri Jadi Tersangka Pembunuhan Suami di Banyumas, Motif Cinta Segitiga
Maroko Singkirkan Belanda Lewat Adu Penalti Dramatis di Piala Dunia 2026
Pria Misterius dalam Video TikTok Korban Sebelum Tewas di Mobil Dinas Disorot Kuasa Hukum