"Kita apresiasi pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Tapi kan secara ekonomi, dia pindah dari beban APBN ke neraca Pertamina," tukas Dipo. Intinya, beban itu tidak hilang, hanya berpindah tempat.
Lalu, apa solusinya? Komaidi punya usulan. Daripada tekanan menumpuk, mungkin bisa dipertimbangkan penyesuaian bertahap untuk BBM non-subsidi. Dengan begitu, Pertamina masih punya ruang bernapas untuk menjaga arus kasnya, tanpa mengganggu komitmen pemerintah soal harga BBM bersubsidi.
"Kalau subsidi kan sudah dijamin tidak akan naik sampai dengan akhir tahun. Ya, mungkin yang nonsubsidinya supaya (Pertamina) ada napas begitu," jelasnya.
Pemerintah Tegaskan Komitmen
Di tengah berbagai kekhawatiran itu, pemerintah bersikukuh dengan keputusannya. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan harga BBM bersubsidi tak akan naik sampai akhir tahun. Katanya, anggaran untuk subsidi sudah dihitung matang, bahkan dengan skenario harga minyak menyentuh 100 dolar AS per barel.
"Subsidi terhadap BBM akan terus diadakan sampai dengan akhir tahun dan harga BBM bersubsidi tidak akan naik. Anggaran kita cukup," tegas Menkeu.
Dengan perhitungan tersebut, pemerintah yakin defisit APBN tetap bisa dikendalikan di sekitar 2,9 persen. Pertanyaannya sekarang, seberapa tangguh Pertamina menahan beban di tengah ketidakpastian global? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Kasus Korupsi CCTV Rp2 Miliar di Makassar Mandek, Kejaksaan Dinilai Lamban
Berkas Kasus Penyiraman Andrie Yunus Dinyatakan Lengkap, Segara Dilimpahkan ke Pengadilan Militer
Islah Bahrawi Ungkap Mahfud MD sebagai Inspirasi Keberaniannya Kritik Prabowo
Stok Beras Pemerintah Capai Rekor Tertinggi 4,72 Juta Ton