PATI – Di ruang kelas yang terang, jari-jari siswa menyentuh layar besar. Mereka tak lagi hanya menatap papan tulis kapur, tapi berinteraksi dengan gambar dan video yang hidup. Inilah wajah baru di sejumlah sekolah di Pati, berkat kehadiran papan pintar interaktif atau Interactive Flat Panel (IFP).
Transformasi digital yang digaungkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) perlahan tapi pasti mulai terasa. Teknologi ini bukan sekadar gimmick. Menurut Rusmi, Pelaksana Tugas Kepala SMP Negeri 8 Pati, dampaknya nyata. Ia melihat perubahan positif dalam cara guru mengajar dan siswa menyerap ilmu.
“Guru-guru jadi terdorong untuk belajar bareng, memaksimalkan fitur IFP meski jumlahnya masih terbatas. Mereka pakai bergantian,” ujar Rusmi, Senin (13/4/2026).
“Yang jelas, keaktifan dan pemahaman siswa meningkat cukup signifikan,” tambahnya.
Di sisi lain, tantangan tetap ada. Jaringan internet yang belum stabil di beberapa titik dan jumlah perangkat yang masih minim jadi kendala nyata. Perawatan perangkat canggih ini juga butuh perhatian ekstra agar tak cepat rusak.
Namun begitu, antusiasme terpancar dari para pengguna langsung. Mukhibatul Baroroh, Guru TIK di sekolah yang sama, dengan semangat menjelaskan bagaimana fitur multi-touch hingga mirroring membuat kelas jadi lebih dinamis.
“Pembelajaran bisa dikemas jauh lebih menarik. Siswa antusias, mereka lebih mudah paham,” jelas Baroroh.
Ia juga mengakui, kompetensi digital rekan-rekan gurunya ikut terdongkrak. Lewat pelatihan dan komunitas belajar, mereka saling berbagi trik dan mengembangkan ide-ide kreatif untuk materi pelajaran.
Harapannya ke depan sederhana tapi krusial: pelatihan yang lebih intensif, jaringan internet yang mumpuni, konten pembelajaran yang melimpah, dan tentu saja, tambahan unit IFP.
Suara siswa punya bobot yang tak kalah penting. Bagi Amira Oktaviana, siswi kelas IX, perbedaan metode belajar ini terasa sekali.
“Jauh lebih mudah memahami pelajaran. Saat presentasi, gambar dan tulisannya jelas banget di layar besar,” ungkapnya.
Senada dengan Amira, Keyla Patricia Agatha merasakan atmosfer kelas yang berubah total.
“Nggak bosen lagi. Ada video, animasi, jadi seru. Saya jadi cepat nangkep materinya,” kata Keyla.
Program digitalisasi ini memang sedang digencarkan. Di Kabupaten Pati saja, data menunjukkan 1.108 satuan pendidikan telah menerima bantuan IFP dan perangkat pendukung lainnya. Upaya ini dinilai mampu mendorong kualitas pembelajaran yang lebih inovatif dan sesuai dengan zaman.
Pelaksana Tugas Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menilai program ini sukses menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman. Baik untuk guru maupun siswa.
Sementara dari tingkat pusat, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan komitmennya. Targetnya ambisius tapi jelas.
“Dalam lima tahun ke depan, setiap sekolah kami targetkan dapat dua hingga tiga perangkat digital setiap tahun. Harapannya, seluruh ruang kelas akhirnya terfasilitasi teknologi pembelajaran modern,” tegas Mu’ti.
Jalan menuju transformasi digital di sekolah memang masih panjang. Tapi langkah awal di Pati ini setidaknya sudah memberi gambaran: ketika teknologi digunakan dengan tepat, dinding kelas bisa terasa lebih luas, dan pelajaran pun hidup.
Artikel Terkait
Pakistan Kirim Delegasi Tingkat Tinggi untuk Lanjutkan Mediasi Iran-AS
Pemerintah Permudah Bea Cukai Barang Bawaan Jemaah Haji Lewat PMK Terbaru
Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions Meski Hanya Imbang Lawan Sporting
Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions Usai Imbang Lawan Sporting Lisbon