Amran lantas memberi contoh konkret. Ia menyebut traktor perahu karya ITS yang sudah jadi. "Nah ini traktor perahu. Sudah, diperbaiki terus, rekayasa kita adakan," katanya. Tapi itu baru awal. Ia mendorong agar inovasi seperti itu diproduksi massal.
Pemerintah, janjinya, siap menyerap hasil karya anak bangsa. Syaratnya, kampus harus berani memproduksi dalam skala besar dan menjamin kualitasnya. "Kami ingin ITS terdepan. Bisa ya?" tantangnya.
Di sisi lain, Amran juga menekankan bahwa kesuksesan produksi beras ini adalah hasil kerja kolektif. "Ini kerja kita semua. Ini kerja bersama. Bukan saya," ucapnya merendah. Dampaknya pun terasa hingga ke tingkat global. Berbeda dengan masa lalu dimana Indonesia rutin mengimpor, kini justru bisa mempengaruhi pasar.
"Dulu kita impor 7 juta ton beras. Sekarang kita tidak impor. Dampaknya, harga pangan dunia turun," jelasnya.
Menutup pernyataannya, ia mengajak semua pihak untuk berkolaborasi. Baginya, tidak ada lagi sekat-sekat institusi. "Kita sama-sama, gandengan tangan. Enggak ada istilah Unhas, IPB, ITS. kita harus kolaborasi, demi Merah Putih," serunya.
Ajakan terakhirnya jelas: fokus pada hilirisasi yang berbasis kebutuhan riil negara. "Ayo kita bergerak di hilirisasi, meneliti sesuai kebutuhan negara," pungkas Amran mengakhiri.
Artikel Terkait
Tim SAR Kerahkan Drone Thermal Cari Remaja 14 Tahun yang Hilang di Hutan Mamuju
Arsenal Tersungkur di Kandang Sendiri, Bournemouth Menang 2-1
Ayah di Cianjur Ditahan Diduga Cabuli Anak Kandung Usia 10 Tahun
Presiden Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI di Munas ke-16