“Sebetulnya yang kita lihat, ketika kandang bau, artinya proteinnya tidak terserap dengan optimal. Nah, dengan adanya tambahan probiotik dalam produk kami, nutrisi bisa diserap lebih banyak,” ungkapnya.
Probiotik ini bekerja hingga ke vili usus, meningkatkan penyerapan nutrisi secara maksimal. Hasilnya dua kali lipat: efisiensi pakan meningkat, dan lingkungan kandang pun jadi lebih baik.
“Masuk ke vili-vili usus, kemudian diserap. Saat keluar, aromanya berkurang karena proteinnya terserap secara maksimal,” jelasnya.
Di sisi lain, Mentan Amran terus mendesak agar riset berorientasi pada solusi yang punya dampak ekonomi nyata. Saat berkunjung ke Science Techno Park IPB di Bogor, ia menyoroti potensi besar pengembangan ayam unggul berbasis riset kampus.
“Kalau ayam kampung bisa dipercepat, misalnya 30–40 hari sudah satu kilogram, itu luar biasa. Ini yang harus kita kejar,” ujarnya.
Bahkan, Amran tak segan menjanjikan dukungan pemerintah. Jika target itu benar-benar tercapai, ia siap membawa hasilnya ke tingkat tertinggi.
“Kalau bisa capai target, saya siap bawa ke Presiden, kita beli. Jangan ragu. Ini peluang besar,” tegasnya.
Dorongan seperti inilah yang akhirnya memberi energi ekstra bagi para peneliti. Tujuannya jelas: memastikan inovasi tak mandek di rak laboratorium, tapi benar-benar menjadi solusi yang meringankan kerja peternak dan mendongkrak kesejahteraan.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Pencak Silat Sebagai Cermin Jati Diri dan Ilmu Kesatria
Tim SAR Kerahkan Drone Thermal Cari Remaja 14 Tahun yang Hilang di Hutan Mamuju
Arsenal Tersungkur di Kandang Sendiri, Bournemouth Menang 2-1
Ayah di Cianjur Ditahan Diduga Cabuli Anak Kandung Usia 10 Tahun