Lalu, ada Gerindra. Di bawah bayang-bayang popularitas kepemimpinan nasional, partai ini sukses nyaris menyapu bersih wilayah pegunungan. Cengkeramannya di selatan juga makin kuat.
Secara angka, mereka bahkan punya kepala daerah terbanyak. Darmawangsyah Muin di Gowa, Andi Muchtar Ali Yusuf di Bulukumba, hingga Zadrak Tambeg di Tana Toraja. Daftarnya panjang, menunjukkan penetrasi yang dalam.
Arena Negosiasi Elit Menuju 2029
Menanggapi peta rumit ini, Pengamat Politik dari UIN Alauddin Makassar, Reskiyanti Nurdin, punya pandangan menarik. Menurutnya, meski masih jauh, pola untuk Pilkada 2029 sudah mulai terlihat.
"Pilkada 2029 akan ditentukan oleh kompetisi tripolar antara Golkar, Nasdem, dan Gerindra yang berbasis pada kekuatan figur dan koalisi pragmatis," ujar Reskiyanti.
Ia membeberkan karakter tiap partai. Golkar diuntungkan oleh struktur dan jaringan historisnya. Nasdem punya tren ekspansif yang kuat, didorong perolehan kursi DPRD. Sementara Gerindra, peluangnya meningkat berkat efek elektoral Prabowo di tingkat lokal.
Reskiyanti, yang mendalami riset partai politik, menekankan satu hal. Pertarungan ke depan sama sekali bukan soal ideologi.
"Ketiga kekuatan ini tidak bekerja dalam garis ideologis yang kaku, melainkan dalam pola koalisi cair dan transaksional. Pilkada 2029 kemungkinan besar akan lebih menyerupai arena negosiasi elit daripada kontestasi programatik," pungkasnya.
Jadi, beginilah hitung-hitungan kasarnya: Gerindra memimpin dengan 9 daerah, disusul Golkar 8, dan Nasdem 7 (termasuk Wagub). Konfigurasi ini jelas akan mewarnai politik Sulsel ke depan. Adu pengaruh, lobi-lobi tingkat tinggi, dan manuver antar tiga poros ini akan menentukan siapa yang maju pada 2029. Politik memang tak pernah tidur.
Artikel Terkait
Kebakaran Hanguskan Ruko Grosir Sepatu di Pematangsiantar, Tak Ada Korban Jiwa
Mobil Avanza Terjun ke Sungai di Bangkalan, Pengemudi Diduga Keliru Injak Gas
Sekretaris Kabinet Benarkan Rencana Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia
Rem Truk Pasir Diduga Blong, Tabrak Truk Tronton di Sukoharjo