Suara keras menggema hingga subuh. Itulah yang terjadi saat Medali Spectacular Carnival (MSC) 2026 digelar di Desa Medali, Mojokerto. Acara yang seharusnya meriah itu malah menuai kritik pedas. Pasalnya, ada 32 unit 'sound horeg' yang beroperasi dari sore sampai pagi buta. Bukan cuma soal kebisingan, bunyi bass yang mengguncang bahkan dituding merusak plafon rumah beberapa warga.
Kepala Desa Medali, Miftahuddin, tak menampik adanya laporan kerusakan. Meski begitu, menurutnya, masalahnya tidak separah yang dibicarakan di media sosial.
"Sampai hari ini sudah tidak ada masalah. Cuman di medsos ini kan kalau sudah masuk seakan-akan kayak besar masalahnya. Padahal kan tidak sampai rumahnya roboh dan seterusnya. Kalau (plafon) rontok itu kan faktornya ya memang plafonnya sudah mau rontok,"
Ucap Miftahuddin, Kamis (19/2/2026) lalu. Dia berusaha meluruskan narasi yang berkembang.
Sebelum karnaval dimulai, ternyata sudah ada langkah antisipasi. Miftahuddin mengungkapkan bahwa seluruh unsur masyarakat, termasuk warga, telah menandatangani surat pernyataan. Isinya sederhana: persetujuan dan pemahaman bersama tentang segala risiko acara. Sayangnya, mungkin ada yang lupa.
"Kami sebelum acara, kami sudah membuat surat pernyataan, mulai dari pernyataan dari pemerintah desa, panitia, RT dan masyarakat. Mungkin dia lupa tidak melihat saat tanda tangan itu. Artinya, sama-sama tanggung jawab,"
jelasnya lebih lanjut.
Lantas, bagaimana saat ada keluhan? Menurut Miftahuddin, respon panitia cukup cepat. Begitu ada komplain sebelum acara, mereka langsung mendatangi rumah warga yang bersangkutan. Setelah dijelaskan, akhirnya muncul pengertian. Dia juga menekankan bahwa kerusakan yang terjadi sangat terbatas.
"Ketika kami datangi, kami jelaskan, bisa memahami. Artinya tidak sampai orang yang tidak suka sound yang terlalu, endak seperti itu. Toh di balai desa dan rumah warga yang kacanya besar-besar itu kenyataannya tidak ada yang pecah,"
tandasnya menutup pembicaraan.
Gelaran itu sudah berlalu. Yang tersisa adalah debu jalanan dan perbincangan hangat tentang batasan antara hiburan publik dan kenyamanan warga. Sebuah pelajaran, barangkali, untuk event-event serupa di masa depan.
Artikel Terkait
Menteri Pertahanan Israel Tegaskan Penarikan Pasukan Gaza Bergantung pada Perlucutan Hamas
Menhub Beberkan Alokasi Anggaran Rp28,48 Triliun untuk 2026, Fokus pada Keselamatan
Banjir Susulan Terjang Tapanuli Tengah, Sepuluh Kecamatan Porak-poranda
Mendag Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tak Picu Kelangkaan dan Kenaikan Harga Pangan