MURIANETWORK.COM - Umat Islam di seluruh dunia diproyeksikan akan menjalani ibadah puasa Ramadan dua kali dalam satu tahun kalender Masehi pada 2030. Fenomena langka ini, yang terakhir kali terjadi pada 1997, merupakan konsekuensi langsung dari perbedaan sistem penanggalan Hijriah yang berbasis bulan (lunar) dengan kalender Masehi yang berbasis matahari (solar). Ramadan pertama diperkirakan akan dimulai pada 5 Januari 2030, sementara Ramadan kedua akan menyusul pada 26 Desember di tahun yang sama.
Mengenal Akar Penyebab Fenomena
Inti dari peristiwa ini terletak pada perhitungan waktu yang berbeda antara dua sistem kalender. Kalender Hijriah, yang menjadi patokan penentuan bulan Ramadan, mengikuti siklus fase bulan dengan rata-rata 354 atau 355 hari dalam setahun. Sementara itu, kalender Masehi berdasar pada revolusi bumi mengelilingi matahari, yang berjumlah 365 hari. Selisih sekitar 10 hingga 12 hari inilah yang menyebabkan bulan-bulan Hijriah, termasuk Ramadan, terus bergeser maju setiap tahunnya dalam kalender Masehi.
Dalam siklus sekitar 33 tahun, Ramadan akan menyelesaikan satu putaran penuh melalui semua musim dalam kalender Masehi. Di tengah proses pergeseran tahunan itu, akan selalu ada satu momen di mana bulan suci itu "terpotong" oleh pergantian tahun Masehi, sehingga muncul dua kali dalam periode 12 bulan yang sama.
Proyeksi Tanggal dan Pergeseran Musim
Berdasarkan perhitungan astronomis, Ramadan 1447 H diprakirakan akan dimulai sekitar 18 atau 19 Februari 2026, menunggu konfirmasi melalui rukyatul hilal. Dari titik itu, pergeseran tahunan membawa Ramadan ke awal Januari 2030 untuk yang pertama kalinya. Setelah itu, Ramadan terus bergerak maju dan akan kembali jatuh menjelang akhir Desember 2030.
Peristiwa ini tidak hanya unik dari segi penanggalan, tetapi juga membawa variasi dalam praktik ibadah, terutama terkait durasi puasa.
Dampak terhadap Lamanya Waktu Berpuasa
Posisi Ramadan yang bergeser melintasi musim menyebabkan durasi puasa harian bervariasi di berbagai belahan dunia. Saat ini, bagi negara-negara di belahan bumi utara, Ramadan jatuh pada bulan-bulan dengan siang yang lebih pendek, sehingga waktu menahan lapar dan dahaga relatif lebih singkat.
Sebaliknya, bagi komunitas Muslim di belahan bumi selatan, mereka justru menjalani puasa dengan hari yang lebih panjang. Pada 2030, Ramadan pertama akan berlangsung di puncak musim dingin untuk wilayah utara, menawarkan durasi puasa yang lebih ringan. Sementara Ramadan kedua di akhir tahun akan mendekati titik balik matahari musim dingin lagi, menunjukkan pola peralihan yang terus berlanjut.
Fenomena ini, meski terdengar luar biasa, sebenarnya adalah sebuah kepastian ilmiah dari mekanisme langit. Bagi umat Islam, ini menjadi pengingat akan keagungan ciptaan Allah dan kesempatan yang amat istimewa untuk meraih berkah dua kali dalam hitungan tahun Masehi.
Artikel Terkait
Menteri Seskab Soroti Dugaan Penebangan Hutan Pemicu Banjir Bandang Guci Tegal
Jadwal Imsak Bekasi Hari Ini, 19 Maret 2026, Pukul 04.31 WIB
Mensesneg Ajak Publik Tak Perdebatkan Perbedaan Awal Ramadan
Arus Mudik Imlek 2026 di Gerbang Tol Jabodetabek Capai 1,62 Juta Kendaraan