“Sementara Hamas dan Jihad Islam mungkin tinggal menunggu waktu saja. Kita tahu Al Aqsa ditutup sejak akhir Februari, dan rencananya penutupan ini akan berlangsung sampai pertengahan April.”
Faisal juga menyoroti peran Donald Trump. Ia menilai Trump bisa disebut sebagai presiden AS paling berjasa bagi Israel setelah Harry Truman. Salah satu jasanya yang paling mencolok adalah pengakuan atas Yerusalem baik bagian barat maupun timur sebagai ibu kota Israel.
Langkah itu punya dasar hukum di Israel, yaitu Jerusalem Basic Law tahun 1980. Di sisi AS, ada Jerusalem Embassy Act yang jadi pijakannya.
“UU itu ditandatangani Presiden Bill Clinton dari Partai Demokrat pada 1995,” jelas Faisal.
“Jadi sebenarnya punya dasar hukum yang kuat. UU itu mewajibkan presiden yang sedang menjabat untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.”
Tapi, ada catatan. Dalam UU tersebut terdapat klausul yang memperbolehkan penundaan setiap enam bulan jika langkah pemindahan dinilai terlalu sensitif dan berisiko memicu konflik. Selama bertahun-tahun, para presiden AS memilih opsi ini: menunda.
Donald Trump akhirnya yang melakukannya, setelah juga menunda di periode pertamanya. Bagi Faisal, Trump telah membantu menghancurkan rezim yang sejak awal bersikap anti-Zionis, seperti Iran.
“Propaganda soal nuklir Iran itu bagian dari upaya mendiskreditkan,” tegasnya.
“Tujuannya agar dunia percaya bahwa Iran adalah ancaman bagi perdamaian. Bagi Israel, ada doktrin ‘keamanan mutlak’ dalam bahasa Ibrani ‘bita khan’. Mereka akan melakukan apa pun demi keamanan negara, karena sejak awal negara ini lahir di tengah permusuhan.”
Artikel Terkait
Prabowo Saksikan Penyerahan Rp11,4 Triliun dan Reklamasi Lahan ke Negara
Unhas dan KLHK Jalin Kerja Sama Hadapi Perubahan Iklim
Amnesty International: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Berpola dan Terencana
PSIM Yogyakarta Hadapi PSM Makassar di Stadion Sultan Agung, Susunan Pemain Kedua Tim Diumumkan