Pengamat: Iran Berjuang Pertahankan Martabat, Dukungan Internal Menguat

- Jumat, 10 April 2026 | 14:00 WIB
Pengamat: Iran Berjuang Pertahankan Martabat, Dukungan Internal Menguat

Menurut pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf, Iran punya alasan kuat baik secara hukum maupun moral untuk melawan tekanan AS dan Israel. Baginya, tidak ada pilihan lain. Sebagai pihak yang kerap menjadi korban, hanya diam tentu sebuah kehinaan. Mereka harus bertindak untuk menjaga martabat.

“Dalam bahasa Persia, ada istilah ‘sya’an’. Artinya kurang lebih martabat atau kehormatan,” jelas Faisal dalam sebuah wawancara.

“Apa yang dilakukan Iran sekarang ini adalah upaya menjaga kehormatan mereka. Sebagai bangsa, sebagai ahli waris peradaban besar, mempertahankan martabat adalah sebuah keharusan.”

Pernyataan itu disampaikannya dalam program Perspektif One on One, Kamis lalu.

Di sisi lain, Faisal melihat dukungan internal justru menguat di Iran, sementara situasi di kubu AS dan Israel berbeda. Rakyat mereka sendiri banyak yang protes. Sebuah polling Reuters belum lama ini, misalnya, menunjukkan tingkat kepuasan publik AS terhadap Donald Trump hanya menyentuh 26 persen.

Fakta di lapangan semakin jelas. Demo besar-besaran di AS melibatkan jutaan orang. Bahkan, sejumlah politisi di tingkat negara bagian mulai menyuarakan penolakan terbuka. Yang menarik, beberapa di antaranya sampai mengibarkan bendera Iran lawan yang selama ini digambarkan sebagai musuh.

“Perang ini justru membangun citra positif Iran,” ujar Faisal.

“Di berbagai negara, termasuk Indonesia, isu Sunni-Syiah sudah tidak terlalu menonjol. Iran tampil simpatik sebagai korban. Dulu mereka dianggap hanya melawan Israel, kekuatan super power di Timur Tengah. Sekarang, mereka berhadapan dengan dua kekuatan sekaligus: AS sebagai super power dunia, dan Israel. Dan Iran ternyata bisa mengimbangi.”

Menurutnya, perlawanan Iran akan terus berlanjut. Mereka tidak akan berhenti sebelum AS dan Israel benar-benar menghentikan agresinya. Tuntutan Iran jelas: hentikan semua serangan, termasuk di Lebanon dan Irak.

“Koalisi milisi di Irak sudah turun tangan. Begitu pula Hizbullah di Lebanon, dan terakhir Al Qudsiyah di Yaman,” paparnya.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar