Kabupaten Jember, Jawa Timur, belakangan ini dihadapkan pada situasi yang pelik. Para perajin tempe rumahan, tulang punggung industri kecil di wilayah ini, mulai merasakan tekanan hebat. Pemicunya adalah harga kedelai impor yang terus meroket, sebuah efek domino dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Untuk bertahan, mereka terpaksa melakukan berbagai efisiensi ketat, mulai dari memangkas produksi hingga mengurangi jumlah karyawan.
Di tengah situasi sulit ini, ada sosok Maryono yang merasakannya langsung. Pria pemilik rumah produksi tempe di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates ini sudah berkecimpung lebih dari dua dekade. Namun, menurutnya, tekanan beban produksi yang sekarang ia alami termasuk yang terberat.
“Dulu produksi bisa mencapai 1,8 kuintal per hari, tapi sekarang hanya sanggup 1 kuintal saja per hari,”
keluhnya saat ditemui di tempat usahanya, Rabu lalu. Penurunan hampir setengah dari kapasitas normal itu benar-benar langkah pahit. Bayangkan, harga kedelai yang dulu berkisar Rp8.000 per kilogram kini melonjak ke angka Rp10.000. Imbasnya langsung terasa.
Artikel Terkait
Mulai 2026, WFH ASN Diiringi Aturan Respons 5 Menit dan Pelacakan Lokasi
Tiga Pelaku Pengeroyokan Tewaskan Pria di Sukabumi Diringkus di Banten
Pendaftaran Polri 2026 di NTT Ramai, 3.660 Calon Ikuti Seleksi Ketat
Bayi Perempuan Ditemukan Tewas dalam Plastik, Pesan Tolong Dimakamkan Anakku Syalwa Tertempel