Tak cuma soal bahan baku, pendapatan yang menipis memaksanya mengurangi jumlah tenaga kerja. Pilihan-pilihan sulit demi menjaga agar usahanya tetap bernapas.
Namun begitu, ada satu hal yang menarik. Meski biaya operasional membumbung, para perajin di kawasan Tegal Besar ini sepakat untuk tidak menaikkan harga jual tempe. Harganya tetap bertengger di Rp5.000 per biji. Mereka takut kehilangan pelanggan setia jika harganya dinaikkan begitu saja.
Lalu bagaimana cara mereka bertahan? Strateginya adalah dengan menyesuaikan takaran. Ukuran tempe sedikit dikurangi, sehingga margin keuntungan yang didapat meski tipis masih bisa menyelamatkan usaha. Sebuah kompromi yang terpaksa dilakukan antara mempertahankan harga di tingkat konsumen dan menjaga kelangsungan hidup bisnis skala rumahan.
Jadi, meski tempe di pasaran masih terlihat sama dan harganya tak berubah, di balik layar, para perajin seperti Maryono sedang berjuang keras menahan beban. Mereka berharap gejolak harga ini segera mereda, sebelum pilihan yang tersisa semakin menyempit.
Artikel Terkait
Mulai 2026, WFH ASN Diiringi Aturan Respons 5 Menit dan Pelacakan Lokasi
Tiga Pelaku Pengeroyokan Tewaskan Pria di Sukabumi Diringkus di Banten
Pendaftaran Polri 2026 di NTT Ramai, 3.660 Calon Ikuti Seleksi Ketat
Bayi Perempuan Ditemukan Tewas dalam Plastik, Pesan Tolong Dimakamkan Anakku Syalwa Tertempel