Kapolsek Sinjai Utara sendiri mengaku belum tahu menahu soal kejadian viral tersebut. Alasannya? Bikin banyak orang menggeleng-geleng.
"Maaf, saya tertidur di ruangan,"
Alasan itu langsung jadi sorotan publik. Bagi banyak warga, ini adalah puncak dari kekecewaan yang menumpuk. Seorang petani dari Bulupoddo misalnya, menyuarakan rasa tidak adil yang ia rasakan.
"Kalau kami petani bawa satu jerigen saja dipersulit. Ini malah puluhan jerigen dibiarkan. Di mana keadilannya?"
Keluhnya itu mewakili perasaan banyak orang kecil yang justru seharusnya dilindungi haknya. Kasus di Sinjai Utara ini sebenarnya cuma satu contoh kecil. Ia jadi potret nyata betapa rapuhnya sistem pengawasan distribusi BBM subsidi di daerah. Masyarakat kini menunggu tindakan tegas. Bukan sekadar janji, tapi evaluasi menyeluruh dan hukuman bagi oknum yang bermain curang. Kalau tidak, skandal seperti ini hanya akan terulang lagi.
Artikel Terkait
KPK Cabut Status Tahanan Rumah, Yaqut Kembali ke Rutan
Ambulans Terjebak Macet Parah di Jalur Cibadak Akibat Motor Ngeblong
Tudingan Jual Beli SK Kepengurusan Rp5 Miliar Guncang KNPI Sulsel
Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Pendatang Pascalebaran