Larry Fink, sang CEO BlackRock, punya peringatan keras. Menurutnya, gelombang kecerdasan buatan atau AI yang sedang melanda berisiko besar memperlebar kesenjangan kekayaan yang sudah ada. Ini bukan sekadar isapan jempol belaka.
Perdebatan pun muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi ini. Akankah manfaat AI benar-benar dirasakan secara merata oleh berbagai sektor? Atau justru malah memperdalam jurang pemisah antara raksasa-raksasa teknologi dengan perusahaan-perusahaan kecil yang kesulitan mengikuti laju inovasi?
Sejak ChatGPT diluncurkan akhir 2022 lalu, tren di Wall Street sudah cukup jelas. Kenaikan pasar yang digerakkan AI didominasi oleh segelintir perusahaan yang memang berada di pusat badai inovasi. Pemenangnya, sejauh ini, masih sangat terbatas.
Dalam surat tahunannya yang dirilis Senin (23/3/2026), Fink menyampaikan kekhawatirannya dengan gamblang.
Memang, ada peningkatan jumlah individu yang masuk ke pasar modal belakangan ini. Namun begitu, tingkat partisipasinya secara keseluruhan masih terbilang rendah terutama untuk instrumen seperti saham dan aset tradisional lain yang justru menjadi kunci pembentukan kekayaan jangka panjang.
Fink, yang memimpin manajer aset terbesar di dunia dengan dana kelolaan mencapai USD14 triliun, memang kerap menggunakan surat tahunannya sebagai sarana menyuarakan pentingnya pasar modal dan investasi jangka panjang. Kali ini, fokusnya tertuju pada dampak sosial dari revolusi AI.
Artikel Terkait
Menhub Tegaskan Aturan Pembatasan Truk Jelang Puncak Arus Balik Lebaran 2026
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts and Nevis, Debut Resmi Pelatih John Herdman
Lebaran di Kota Tua: Ramai Wisatawan dan Cerita Warga yang Pilih Tak Mudik
Fabregas Persembahkan Kemenangan Telak Como untuk Almarhum Michael Bambang Hartono