Selain soal air, ada ancaman lain yang tak kalah serius: kebakaran. Program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) pun digencarkan. Kesiapsiagaan diperkuat dengan membentuk Brigade Karlabun dan Kelompok Tani Peduli Api.
Lalu, apa yang bisa dilakukan pekebun di tingkat lapangan? Imbauannya, terapkan langkah-langkah adaptif sederhana. Misalnya, pakai pupuk organik, efisiensi pemupukan, dan pantau kondisi tanaman secara rutin. Teknologi konservasi air macam rorak dan biopori juga sangat dianjurkan untuk menyimpan cadangan air di dalam tanah.
Dengan serangkaian langkah itu, harapannya perkebunan nasional tetap bisa bertahan dan bahkan berkembang meski diterpa kemarau.
“Menjaga kebun hari ini berarti menjaga ekonomi dan masa depan Indonesia. Perkebunan tangguh, Indonesia kuat,” tegas Roni.
Seorang pekebun binaan mengaku, berbagai pendampingan tersebut sangat membantu. Terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang membuat musim kemarau terasa lebih panjang dan tak menentu.
“Bagi kami, kebun adalah masa depan. Saat kemarau datang lebih lama, kami harus lebih pintar mengatur pola tanam dan menjaga ketersediaan air. Dengan pola tanam yang adaptif dan ramah lingkungan, kami siap menjaga perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi tantangan iklim dunia,” ujarnya.
Jadi, meski tantangan cuaca makin berat, upaya mitigasi yang terpadu dari hulu ke hilir diharapkan bisa jadi tameng. Agar roda ekonomi dari kebun tetap berputar.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus