Peradaban, Adab, dan Godaan Prinsip Absolut
Oleh: Radhar Tribaskoro
Buku terbaru Adhie M. Massardi, Peradaban Bukan Sekadar Civilization, lahir dari sebuah kegelisahan yang terasa begitu nyata. Sosok penulisnya sendiri cukup unik di tengah lanskap intelektual kita sekarang. Dia seorang pujangga yang tak larut dalam kemewahan istana, tapi juga tak sungkan menjadikan pinggir jalan sebagai ruang protes. Tulisannya baik puisi maupun esai selalu dibalut empati yang jernih, tanpa kehilangan ketajaman analisisnya.
Namun begitu, Mas Adhie saya biasa memanggilnya begitu bukanlah orang asing bagi kekuasaan. Dia politikus profesional, pernah menjabat Juru Bicara Presiden Keempat RI, Abdurrahman Wahid. Pengalaman dari dalam itulah yang membuatnya paham betul. Seringkali, bahasa moral yang luhur kalah telak oleh bahasa kepentingan yang pragmatis. Nilai-nilai mulia bisa dengan mudah larut jadi sekadar slogan saat berhadapan dengan mesin kekuasaan.
Buku ini, menurut saya, adalah puncak perenungannya. Ini bukan memoar politik, apalagi pamflet perlawanan. Ia menulis dengan jarak yang sudah terbentuk jarak dari kekuasaan, dari euforia reformasi, juga dari ilusi bahwa kemajuan selalu identik dengan keberadaban. Dunia modern ia amati dengan mata yang letih tapi jujur. Teknologi melesat, hukum berlapis, indeks kesejahteraan dipamerkan, tapi arah moral justru makin kabur.
Di sinilah paradoksnya muncul. Di tengah dunia yang mengklaim diri makin civilized, kekerasan justru dilembagakan secara sah. Ketidakadilan dihalalkan lewat prosedur yang rumit. Kehancuran ekologi dibungkus dengan bahasa rasionalitas yang dingin. Peradaban modern ibarat bangunan megah yang fondasi batinnya keropos. Dari kegelisahan inilah buku Adhie bermula.
Ia mempertanyakan istilah civilization yang selama ini dianggap sebagai ukuran final. Baginya, kemajuan material tak otomatis mencerminkan kematangan etis. Ada sesuatu yang lebih purba dan lebih menentukan daripada sekadar institusi atau teknologi: adab. Yaitu kesadaran tentang batas, tentang posisi manusia di hadapan sesama, alam, dan sesuatu yang melampauinya.
Dari titik tolak itulah buku ini bergerak. Bukan sebagai nostalgia religius, bukan pula penolakan terhadap modernitas. Ini lebih pada gugatan sunyi terhadap dunia yang terlampau percaya pada sistem, tapi ragu-ragu pada manusia.
Justru di sini percakapan penting dimulai. Ketika kritik terhadap modernitas teknokratis mengeras, muncul pertanyaan yang tak terhindarkan: sejauh mana adab bisa jadi fondasi bersama? Kapan ia berubah menjadi klaim kebenaran baru yang tak terbantahkan?
Pertanyaan itulah yang membuat buku ini layak dibaca dan juga layak dikritik.
Kritik Adhie tepat sasaran. Civilization sering dijadikan tolok ukur, seolah kemajuan material identik dengan kemajuan moral. Padahal sejarah membuktikan hal sebaliknya. Atas nama peradaban, kolonialisme berjalan, kekerasan dilembagakan, alam dieksploitasi habis-habisan. Dalam hal ini, civilization lebih sering jadi bahasa kekuasaan ketimbang bahasa etika.
Keunggulan buku ini ada pada keberaniannya mengembalikan pusat peradaban kepada manusia sebagai makhluk etis. Manusia tak pernah sepenuhnya "muat" dalam sistem. Kita hidup dalam makna, nurani, dan tanggung jawab bukan cuma sebagai unit fungsional ekonomi atau teknologi. Saat manusia direduksi jadi objek, hukum bisa berjalan tanpa keadilan, teknologi berkembang tanpa tanggung jawab. Ini bukan krisis administratif. Ini krisis makna.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Hellyana Tantang Dasar Laporan Ijazah Palsu: Mana Kerugian Nyata Pelapor?
Parkir Murah di Luar Stasiun Bekasi Tetap Jadi Andalan, Meski Tarif Mulai Merangkak Naik
Hellyana Diperiksa 10 Jam, Status Resmi Jadi Tersangka Ijazah Palsu
Ramalan Kematian Trump di The Simpsons Ternyata Hoaks, Produser Buka Suara