Lalu, apa penyebabnya? Ternyata, situasi geopolitik yang memanas menjadi alasan utamanya. Saat ditanya apakah keputusan ini terkait eskalasi konflik di Timur Tengah, Prasetyo membenarkan. “Iya, terkait konflik Israel-AS dengan Iran,” jawabnya singkat, tanpa banyak basa-basi.
Padahal, rencana pengiriman pasukan itu sendiri bukanlah hal baru. Sebelumnya, sekitar sebulan lalu tepatnya pada 10 Februari 2026, Prasetyo sudah mengisyaratkan kesiapan Indonesia. Saat itu, di Stasiun Gambir, ia menyebut angka kurang lebih 8.000 prajurit akan dikerahkan untuk misi perdamaian di Gaza.
Kini, dengan dinamika yang berubah cepat, semua rencana itu terpaksa diparkir dulu. Menunggu situasi yang lebih kondusif, sambil mempertimbangkan segala risiko yang mungkin timbul. Keputusan ini, di satu sisi, menunjukkan kehati-hatian Indonesia. Di sisi lain, ia juga menggambarkan betapa rumit dan cairnya peta konflik di kawasan tersebut.
Artikel Terkait
Mentan Amran Borong Takjil Pedagang di Bone, Bagikan Gratis ke Warga
Pemerintah Kaji Pemotongan Gaji Pejabat hingga Anggota DPR
Pemerintah Imbau Open House Lebaran Dilaksanakan Secara Sederhana
Remaja Tewas, Dua Luka Berat dalam Tabrakan Motor di Pandeglang