Bus-bus itu akan membawa hampir seribu pemudik. Antusiasme publik ternyata meledak. Pendaftar mencapai 2.500 orang, jauh melebihi kuota yang ada. Fauzi menyebut program ini didukung banyak pihak, mulai dari bank-bank Himbara seperti BRI dan Mandiri, sampai komunitas daerah dan mahasiswa yang turut mengurus kepanitiaan.
Di sisi lain, dari Sumatera Barat, ada program "Pulang Basamo" yang digawangi Andre Rosiade. Wakil Ketua Komisi VI ini kembali menggelar mudik gratis untuk perantau Minang. Skalanya cukup besar: 250 bus disiapkan untuk mengangkut ribuan orang.
Gelombang kedua saja, Minggu lalu, sudah memberangkatkan 150 bus dengan sekitar 6.000 pemudik. Andre bilang, program ini sudah empat tahun berjalan dan armadanya terus bertambah tiap tahun. Semua gratis, sebagai bentuk bantuan agar mereka bisa merayakan Lebaran bersama keluarga.
Andre juga punya catatan menarik tentang kontribusi perantau. Menurutnya, mereka punya peran ekonomi yang signifikan untuk daerah asal.
"Setiap tahun perantau Minang itu mengirimkan anggaran 20 triliun setiap tahun ke kampung halaman. Sehingga uang perantau Minang ini membantu pertumbuhan ekonomi Sumbar," pungkasnya.
Jadi, menjelang hari raya, geliat mudik tak hanya soal arus orang. Ada juga upaya-upaya politik praktis yang berusaha meringankan beban warga, sekaligus tentu saja, menyentuh hati para pemilih.
Artikel Terkait
Gua Andulan di Luwu: Situs Pemakaman Adat yang Menyimpan Sejarah dan Tantangan
Polda Telusuri 86 CCTV untuk Ungkap Jejak Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Bank Sulselbar Siapkan 36 ATM di Bone untuk Arus Mudik Lebaran
Gubernur Sulsel Lepas Armada Mudik Gratis Mudik Aman, Berbagi Harapan