Akibatnya bisa ditebak. Bibit yang seharusnya menghijaukan lahan justru mati mengering.
“Bibit yang datang 4 juta. Tidak bisa ditaruh di PTPN ada itu 3,5 juta bibit. Akhirnya, 3,5 juta itu mati,” ujar Kajati Didik Farkhan.
Puluhan Miliar Menguap
Nah, soal uangnya inilah yang paling menyakitkan. Dari total Rp60 miliar, nilai bibit plus ongkos angkut yang teridentifikasi hanya sekitar Rp4,5 miliar. Sisanya, diduga kuat tidak dipakai sesuai tujuannya.
BPKP masih menghitung kerugian negara secara resmi. Namun Didik Farkhan memperkirakan angkanya fantastis: lebih dari Rp50 miliar.
Uang Proyek Buat Beli Mobil
Yang lebih memiriskan, anggaran APBD itu seperti jadi bancakan. Sekitar Rp20 miliar dikelola pihak pelaksana, sementara Rp40 miliar lainnya ada di perusahaan penyedia, PT AAN.
Dana itu sempat dibawa ke Bogor dengan dalih cari bibit. Tapi penyidik menemukan fakta lain: sebagian uang dipakai beli mobil.
“Sudah kita telusuri semua kemana-mana. Dari sisa Rp20 miliar itu akhirnya ada uang Rp1,2 miliar dibelikan mobil. Ternyata mobil itu dijual, akhirnya kita sita dari penjualan mobil itu,” tegasnya.
Artikel Terkait
PD Parkir Makassar Tegaskan Tarif Resmi Tak Naik Meski Ada Video Viral Jukir Minta Rp10 Ribu
Gunung Tambora Naik Status Jadi Waspada, Aktivitas Gempa Vulkanik Meningkat
Harga Emas Batangan Pegadaian Naik Signifikan, Tembus Rp3 Jutaan per Gram
Truk Nyangkut di Perlintasan Kaligawe, 10 Perjalanan KA di Semarang Terganggu