Meski terdengar seperti kabar baik, peringatan yang disampaikan CSIS justru lebih seram. Mereka bilang, total biaya bisa meledak jauh lebih besar kalau perang ini berlarut-larut. Dan sinyalnya sedang tidak baik-baik saja.
Baik Presiden Donald Trump maupun Menteri Pertahanan Pete Hegseth sama-sama memberi isyarat bahwa operasi ini berpotensi berjalan berminggu-minggu. Situasi ini tentu memicu kekhawatiran baru: mampukah anggaran pertahanan AS menanggung beban yang berkepanjangan?
CSIS meyakini, biaya tambahan pasti akan diperlukan jika konflik terus berlanjut.
tegas mereka.
Implikasinya jelas. Departemen Pertahanan AS diprediksi harus buru-buru mencari sumber dana baru.
jelas CSIS lagi.
Masalahnya, mencari uang tambahan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Mengalihkan anggaran dari pos lain secara internal bukan perkara gampang. Selain berisiko menimbulkan gejolak politik, langkah seperti itu bisa mengganggu program pertahanan lain yang sudah berjalan. Sebuah dilema yang rumit di tengah situasi perang.
Artikel Terkait
Anggota DPR Apresiasi Transparansi Pemerintah Soal Stok BBM untuk Tiga Pekan
Harga Emas Antam Naik Rp35.000, Sentuh Rp3,059 Juta per Gram
Polda Maluku Musnahkan Ribuan Liter Sopi Hasil Operasi Gabungan
Jusuf Kalla Desak Indonesia Berpihak pada Negara Islam dalam Konflik Global