Gerakan mahasiswa kala itu juga menjalar ke kampus lain, seperti Unpad. Bersama-sama, mereka membangun jaringan gerakan sosial yang luas, mulai dari isu buruh hingga persoalan rakyat kecil.
Lalu, bagaimana dengan dua tokoh yang disebutnya paling ideologis itu? Soekarno, di mata Syahganda, adalah sosok yang sejak muda sudah membangun nasionalisme kokoh sebagai dasar perjuangan. Gagasan-gagasannya menjadi fondasi bagi bangsa ini. Tapi, ada catatan. Menurutnya, saat memasuki akhir kepemimpinan, pendekatan Bung Karno mulai bergeser ke arah yang lebih pragmatis.
Di sisi lain, Prabowo Subianto dinilainya sebagai sosok yang konsisten memegang teguh garis nasionalisme itu hingga sekarang. Konsistensi itu terlihat dari berbagai gagasannya tentang kedaulatan negara, ekonomi nasional, dan tentu saja, keberpihakan pada rakyat. Pandangan-pandangan inilah yang kemudian ia tuangkan dalam bukunya, yang sebagian justru ditulis saat ia mendekam di penjara.
Acara peluncuran buku itu sendiri ramai dihadiri sejumlah tokoh. Tampak hadir Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, dan Ketua Umum KSPSI Moh Jumhur Hidayat. Tak ketinggalan, pengamat politik Rocky Gerung, sejumlah anggota DPR, Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara, hingga figur publik Raffi Ahmad turut memadati aula.
Jadi, begitulah kira-kira. Lewat buku dan seminar itu, Syahganda seakan ingin mengingatkan kembali tentang pentingnya fondasi ideologi dalam kepemimpinan nasional. Sebuah refleksi dari seorang aktivis yang perjalanannya dimulai dari kampus, dan kini menuangkan pikirannya dalam tulisan.
Artikel Terkait
Remaja di Gowa Tembus Mata Peluru Jelly, Polisi Kejar Pelaku
Rem Blong Truk Kontainer Diduga Picu Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang, 2 Tewas
Anak Tinggalkan Adik Bayi di Gerobak Nasi Uduk, Surat Tulisan Tangan Ungkap Alasan
Fajar/Fikri Tersingkir di 16 Besar All England Usai Duel Sengit Tiga Gim