Di balik rasa lelah itu, banyak jemaah justru merasakan kepuasan spiritual yang mendalam. Seperti yang diungkapkan Fatikhatul Jannah, seorang jemaah setempat. Ia mengaku sudah terbiasa dengan durasi panjang tersebut.
“Memang cukup lama sampai tiga jam, tapi kami sudah terbiasa. Rasanya lebih khusyuk karena bisa mendengarkan lantunan ayat suci dalam jumlah banyak setiap malamnya,” tuturnya.
Tradisi yang Lahir dari Permintaan Masyarakat
Menariknya, tradisi unik ini justru berawal dari keinginan warga sekitar. Ikhsan Abdullah menuturkan bahwa pola Tarawih dengan bacaan tiga juz per malam merupakan respons atas permintaan jemaah yang ingin lebih banyak mendengarkan Al-Qur'an selama Ramadan. Praktik ini telah berjalan konsisten selama lima tahun, seiring dengan berdirinya Masjid Nurul Ikhsan.
Meski terbilang berat, antusiasme masyarakat tidak surut. Ratusan jemaah tetap setia memadati masjid dan bertahan hingga rakaat terakhir. Bagi mereka, ibadah ini telah menjadi lebih dari sekadar salat sunnah; ia adalah sebuah jalan untuk mendekatkan diri dan menyelami makna Al-Qur'an di bulan yang penuh berkah.
Artikel Terkait
Ayah di Batam Diduga Setubuhi Anak Kandungnya Sejak Usia 7 Tahun
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya
Menteri Pertanian Soroti Rembesan Gula Rafinasi yang Rugikan Petani dan BUMN
Prabowo Ingatkan Ancaman Manipulasi AI dan Akun Palsu di Media Sosial