Yenny Wahid: Hormati Perbedaan Penetapan Awal Ramadan

- Selasa, 17 Februari 2026 | 18:50 WIB
Yenny Wahid: Hormati Perbedaan Penetapan Awal Ramadan

MURIANETWORK.COM - Yenny Wahid, putri kedua Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, menegaskan sikap menghormati perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan. Menurutnya, masyarakat dapat mengikuti keyakinannya masing-masing terkait metode hisab (perhitungan) atau rukyatul hilal (pemantauan bulan), selama berdasar pada metode yang digunakan para ahli. Pernyataan ini disampaikannya kepada media di Jakarta, Selasa (17 Februari 2026), menyikapi potensi perbedaan penetapan hari pertama puasa.

Menghormati Perbedaan Metode

Dalam kapasitasnya sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Yenny Wahid menyatakan bahwa organisasi tersebut menghormati setiap perbedaan, termasuk metode yang dipilih pemerintah. Namun, ia secara pribadi dan untuk masjid yang diikutinya, tetap berpegang pada tradisi rukyatul hilal. Pendekatan ini, baginya, merupakan bagian dari keyakinan yang dipegang teguh.

“Cuma kalau di masjid ini dan yang kami ikuti memang kita memakai metode rukyatul hilal,” tegas Yenny.

Kembali pada Keyakinan dan Keahlian

Yenny melihat tidak ada masalah mendasar dengan adanya perbedaan penentuan awal bulan suci. Yang terpenting, menurutnya, adalah setiap keputusan diambil berdasarkan keyakinan pada metode yang telah mapan dan dikelola oleh ahlinya, bukan penentuan secara sembarangan.

“Tidak masalah ya sesuai keyakinan masing-masing sesuai metode yang dipakai. Memang kalau mungkin ada yang memakai hitung dengan hitungannya sendiri, hisabnya sendiri. Nah, kemudian menentukan terjadinya Ramadan itu besok,” ucap dia.

Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam metode rukyat, jika hilal terlihat secara kasat mata pada suatu wilayah, maka itu menjadi patokan. Prinsip ini yang dipegang oleh komunitasnya.

Pentingnya Merujuk pada Metode Teruji

Di akhir penjelasannya, Yenny Wahid kembali menekankan pentingnya merujuk pada metode yang teruji, baik hisab maupun rukyat. Keduanya, dalam pandangannya, memiliki dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini menjadi kunci untuk menyikapi perbedaan dengan bijak tanpa menimbulkan perpecahan.

“Yang terbaik adalah sesuai keyakinan kita masing-masing. Jadi kayak kalau yang yakin dengan metode yang diikuti oleh para ahli yang diikutinya itu menunjukkan bahwa bulan Ramadhan mulainya besok silakan saja,” ujarnya.

“Tetapi kalau di sini kami yakinnya kalau sudah terlihat bulannya, Insya Allah kalau sudah bila terlihat kapanpun itu kita hormati keputusan itu,” lanjutnya.

“Karena dipakai juga dengan menggunakan metode apa metode yang sudah teruji. Nah, jadi itu yang akan kita kita lihat karena kan memang namanya puasa bulan Ramadhan,” pungkas Yenny menutup pembicaraan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar