Serangan Udara Israel Tewaskan 10 Warga di Sekolah Penuh Pengungsi Gaza

- Selasa, 07 April 2026 | 12:38 WIB
Serangan Udara Israel Tewaskan 10 Warga di Sekolah Penuh Pengungsi Gaza

Suasana di Jalur Gaza kembali memanas Senin (6/4) lalu. Padahal, gencatan senjata seharusnya masih berlaku. Namun begitu, serangan udara Israel mengguncang kawasan dekat sebuah sekolah yang kini dipenuhi pengungsi Palestina. Akibatnya, sedikitnya sepuluh nyawa melayang.

Tak hanya itu, sejumlah orang juga mengalami luka-luka. Serangan ini seperti bayang-bayang gelap yang mengancam kesepakatan gencatan senjata yang rapuh, didukung penuh oleh sekutu dekat Israel, Amerika Serikat.

Menurut sejumlah saksi dan petugas medis di lokasi, situasi sudah mulai tegang sebelum pesawat-pesawat itu datang. Bentrokan pecah antara warga Palestina dan anggota milisi yang didukung Israel. Lokasinya di sebelah timur kamp pengungsi Maghazi, di bagian tengah Gaza.

Konon, milisi pro-Israel itu awalnya menyerbu sekolah dalam upaya penculikan.

Di tengah kericuhan itulah, drone-drone Israel muncul. Dua rudal ditembakkan ke area yang harus diakui sangat padat penduduk. Sebagian besar adalah pengungsi yang sudah kehilangan rumah mereka sebelumnya.

Korban pun berjatuhan. Selain sepuluh orang yang tewas, banyak yang terluka. Sayangnya, angka pastinya masih simpang siur. Sulit memastikan berapa banyak warga sipil yang menjadi korban dalam serangan kali ini.

Ahmed al-Maghazi, salah seorang saksi mata, menggambarkan kronologi dengan jelas. Katanya, para milisi pro-Israel itu beroperasi di perbatasan wilayah yang dikuasai pasukan Israel, lalu mulai melepaskan tembakan.

"Warga berusaha mempertahankan rumah-rumah mereka, tetapi pasukan pendudukan langsung menargetkan mereka,"

Ucap al-Maghazi kepada Reuters, Selasa (7/4/2026). Situasinya kacau. Warga yang cuma ingin melindungi tempat tinggal mereka akhirnya jadi sasaran. Laporan ini, seperti biasa, masih harus ditelaah lebih jauh. Tapi di tanah Gaza, duka sudah nyata terasa.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar