Imlek di Indonesia: Dari Pembatasan Orde Baru ke Pengakuan sebagai Hari Libur Nasional

- Senin, 16 Februari 2026 | 14:00 WIB
Imlek di Indonesia: Dari Pembatasan Orde Baru ke Pengakuan sebagai Hari Libur Nasional

Pada masa-masa awal kemerdekaan, suasana terbilang kondusif. Masyarakat Tionghoa bebas merayakan hari rayanya. Pemerintah bahkan mengukuhkannya sebagai salah satu hari raya keagamaan melalui Penetapan Pemerintah Nomor 2 tahun 1946. Sebuah pengakuan yang cukup berarti.

Namun begitu, angin berubah di masa Orde Baru.

Era Kelam dan Pembatasan

Kebijakan Inpres No. 14 tahun 1967 menjadi titik balik. Ekspresi budaya Tionghoa, termasuk perayaan Imlek, dibatasi dan hanya boleh dilakukan secara tertutup, dalam lingkup privat keluarga. Untuk puluhan tahun, kemeriahan Imlek seolah meredup dari ruang publik.

Keadaan baru membaik pasca reformasi. Sebuah langkah berani diambil.

Presiden Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, mencabut larangan itu pada tahun 2000. Keputusannya membuka kembali keran kebebasan berekspresi. Lalu, pengakuan itu semakin kuat di era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Pada 2003, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional. Keputusan ini bukan sekadar hari libur biasa, melainkan simbol pengakuan penuh negara terhadap keberagaman budaya yang membentuk Indonesia.

Inti Perayaan yang Tak Pernah Luntur

Melintasi semua fase sejarah itu, beberapa tradisi inti Imlek tetap bertahan, sarat makna. Ambil contoh angpao. Amplop merah itu bukan sekadar uang, tapi doa dan simbol berbagi rezeki dari generasi tua ke muda. Begitu pula dengan hidangan. Kue keranjang melambangkan ikatan dan persatuan keluarga, sementara ikan di meja makan adalah simbol harapan akan kelimpahan yang tak putus.

Ritual membersihkan rumah sebelum hari H juga punya filosofi mendalam. Aktivitas itu dimaknai sebagai usaha membuang energi-energi buruk tahun lalu, menyiapkan tempat bagi keberuntungan dan hal-hal baru yang lebih baik.

Jadi, sejarah panjang Imlek ini sebenarnya adalah cerita tentang ketahanan. Sebuah tradisi yang mampu beradaptasi, bertahan, dan akhirnya diakui. Dari legenda monster di pedesaan Tiongkok hingga pengesahan di istana negara Republik Indonesia, Imlek kini telah menjadi lebih dari sekadar tahun baru. Ia adalah simbol harapan, persatuan, dan tentu saja, bukti nyata bahwa keragaman adalah kekuatan.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar