Secara teknis, posisi satuan ini sangat menentukan. Mereka ibarat lapis pertahanan terakhir. Jika musuh berhasil menembus titik pertama atau area kedua yang disebut terminal, maka batalyon inilah yang menghadang.
Prosedur operasinya, tentu saja, didukung alutsista modern yang dirancang untuk mengimbangi serangan lawan. Beberapa radar pendeteksi mereka tersebar di beberapa lokasi, seperti Radar Congot di Yogyakarta, Radar Tegal, dan Radar Cibalingbing. Semuanya terintegrasi dengan sistem senjata andalan mereka: Smart Hunter.
Begitu ancaman terkonfirmasi, prosesnya berjalan cepat. Pasukan segera berkoordinasi dengan komando pusat di Halim Perdana Kusuma, Jakarta.
Jadi, mulai dari deteksi dini hingga respons akhir, semuanya terhubung dalam satu sistem. Batalyon Arhanud 21 Pasgat memang tak sering terdengar, tetapi perannya sebagai perisai titik vital TNI AU jelas tak bisa dipandang sebelah mata.
Artikel Terkait
Anggota DPR Nilai PP TUNAS Bentuk Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak
17 Warga Gugat Ditreskrimum Polda Metro Jaya atas Penanganan Kasus Ijazah Jokowi
Putri Wakil DPRD Sulsel Kelola 41 Dapur Makanan Gratis Senilai Rp61,5 Miliar
Idrus Marham Kritik Komunikasi Pemerintah, Juru Bicara dan Menteri Dinilai Belum Maksimal