MURIANETWORK.COM - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menetapkan jadwal tiga agenda besar organisasi, yakni Musyawarah Nasional Alim Ulama, Konferensi Besar, dan Muktamar ke-35. Munas dan Konbes direncanakan digelar sekitar April 2026, sementara puncak acara, Muktamar, ditargetkan berlangsung pada Juli atau Agustus tahun yang sama. Penetapan ini merupakan hasil kesepakatan dalam Rapat Pleno PBNU, yang mengawali persiapan menuju momen penting lima tahunan tersebut.
Kepemimpinan NU: Lebih dari Sekadar Jabatan Administratif
Menyambut tahapan menuju Muktamar, diskusi mengenai sosok pemimpin yang tepat pun mengemuka. Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH. Imam Jazuli, menegaskan bahwa mandat kepemimpinan dalam NU terletak di tangan Syuriyah sebagai lembaga tertinggi. Posisi Rais Aam, menurutnya, bukan sekadar peran administratif, melainkan manifestasi dari maqam spiritual dan intelektual tertinggi dalam organisasi.
Dalam pandangannya, dinamika zaman yang kian kompleks menuntut figur pemimpin yang mampu menjawab kebutuhan sejarah. "Di tengah disrupsi zaman yang kian menderu, menjelang Muktamar ke-35 NU, sosok KH. Kafabihi Mahrus muncul bukan hanya sebagai kandidat, melainkan sebuah kebutuhan sejarah bagi struktur PBNU," tutur Kiai Imam pada Kamis (5/2/2026).
Landasan Keilmuan dan Integritas Spiritual
Kiai Imam Jazuli menguraikan sejumlah alasan yang menjadikan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo itu dinilai kompeten. Pertama, fondasi utamanya adalah penguasaan keilmuan klasik (turats) yang mumpuni. Kiai Kafabihi, dalam penilaiannya, merupakan representasi dari transmisi keilmuan yang bersambung (isnad), sebuah hal yang dihormati dalam tradisi pesantren.
Kedalaman ilmunya tidak hanya pada hafalan teks, melainkan juga pada pemahaman mendasar terhadap logika hukum di baliknya. "Beliau tidak hanya menghafal teks, tetapi memahami illat (alasan logis) di balik teks tersebut. Kapasitas aliman (berilmu luas) ini menjamin bahwa setiap kebijakan besar PBNU nantinya akan memiliki landasan teologis yang kokoh," jelasnya.
Aspek kedua yang ditekankan adalah integritas dan kesalehan hidup (zuhud). Menghadapi tarikan kepentingan duniawi yang kerap mengitari organisasi besar, sikap zahid Kiai Kafabihi dianggap sebagai benteng. "Dalam konteks PBNU, ini adalah benteng integritas. Seorang Rais Aam yang zahid akan menjaga marwah organisasi agar tidak terseret dalam pragmatisme politik pendek atau kepentingan transaksional, menjaga NU tetap pada khittah pengabdian umat," ujar Kiai Imam.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Raih Podium Perdana Indonesia di MotoGP
Sunderland Kalahkan Newcastle 2-1 dalam Derby Timur Laut yang Sengit
Panglima TNI dan Kapolri Tinjau Pos Pengamanan Mudik 2026 di Medan
IM57+ Kritik Keras Pengalihan Status Tahanan Yaqut ke Rumah