JAKARTA – Soal keikutsertaan Indonesia di Board of Peace (BoP), respons dari ormas-ormas Islam ternyata tak seragam. Pengamat politik Adi Prayitno baru-baru ini menyoroti perbedaan sikap yang cukup mencolok ini. Di satu sisi, PBNU disebut memberikan dukungan penuh. Namun begitu, sikap yang diambil Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia justru lebih berhati-hati, bahkan mereka meminta agar keanggotaan ini ditinjau ulang.
Menurut Adi, perbedaan pendapat seperti ini wajar dalam dinamika demokrasi. Yang penting, ada ruang untuk berdialog.
"Di tengah begitu banyak sikap politik yang disampaikan ormas Islam, pertemuan dengan Presiden menjadi ruang dialogis untuk saling memahami,"
Artikel Terkait
Pramono Anung Larang Atap Seng untuk Rumah Baru di Jakarta
Pemerintah Pacu Pembentukan Badan Pengawas Data Pribadi, Targetkan Perpres 2026
Sepuluh Ribu Rupiah yang Tak Terbeli: Ketika Sebatang Pena Menjadi Harga Sebuah Nyawa
HNW Pertanyakan Nasib Kampung Haji dalam RKAT BPKH 2026