Netanyahu Tegaskan: Palestina Takkan Pernah Merdeka, Ini Alasannya

- Rabu, 04 Februari 2026 | 10:00 WIB
Netanyahu Tegaskan: Palestina Takkan Pernah Merdeka, Ini Alasannya

Kemerdekaan Palestina dari Israel? Mustahil Saja.

Peluangnya Nol Besar

Mari kita lihat dulu sejarahnya. Perjanjian Oslo, atau yang sering disebut Camp David II, dulu sempat bikin harapan. Ditandatangani oleh Yasser Arafat dan Yitzhak Rabin, perjanjian itu melahirkan Pemerintahan Otoritas Palestina. Otonomi, begitu istilah resminya.

Tapi kenyataannya? Pemerintahan itu bergantung banget pada Israel. Dananya dari sana, kebebasannya sangat terbatas. Intinya, mereka tidak benar-benar bisa mengatur negara sendiri. Cuma jadi bayang-bayang saja.

Nah, soal kemerdekaan penuh, perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah berkali-kali bersuara. Dengan tegas dia bilang, mustahil memberi kemerdekaan kepada Palestina. Pernyataannya itu konsisten, diulang di berbagai forum dan kesempatan. Titik.

Di sisi lain, ada target besar yang jarang dibahas. Israel punya cita-cita membangun "Israel Raya". Wilayahnya nggak cuma sebatas sekarang, tapi mencakup Palestina, Yordania, bahkan sampai Libanon dan sebagian Irak, Saudi, serta Mesir. Mimpi yang ambisius, bukan main.

Logikanya sederhana: kalau Palestina saja belum bisa ditaklukkan sepenuhnya, bagaimana mungkin target yang lebih luas itu bisa tercapai? Palestina adalah batu pertama, pondasi dari seluruh rencana besar itu.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan? Menurut penulis, rezim di Indonesia ini keliru langkah. Alih-alih mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk merebut kemerdekaan, yang dilakukan malah seperti merengek kepada Zionis. Seolah-olah kemerdekaan itu harus diberi, bukan direbut dengan perjuangan.

Sedih memang kalau dipikir. Anak cucu dari Imam Asy-Syafi'i, pewaris Khalifah Umar bin Khattab, nasib hidupnya justru bergantung pada belas kasihan kaum yang dibenci Allah. Untuk sekadar merdeka, harus menunggu pemberian dari mereka? Laa quwwata illa billah. Sungguh, tiada daya dan upaya kecuali dari Allah.

(Sam Waskito)

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar