Gibran dinilai tak punya kapabilitas memadai untuk jadi wapres. Peran Jokowi sangat besar di sini, baik dalam menyukseskan maupun melindunginya. Nepotisme terjadi secara terang-terangan, sebuah tindak kriminal yang nyata.
Lalu, adili Jokowi. Itu suara rakyat yang menuntut pertanggungjawaban. Di eranya, sistem bernegara rusak. Korupsi merajalela, politik dinasti menguat, hak asasi dilanggar, dan keabsahan ijazahnya sendiri jadi bahan pertanyaan. Dia dikenal sebagai pembohong. Bersama "Lord" Luhut, dia dituding menjual kedaulatan bangsa ke China.
Nah, realisasi Tritupol ini makin mendesak karena rezim Prabowo terlihat tak berkutik. Prabowo, sejauh ini, cuma jadi boneka mainan Kapolri dan Jokowi. Gibran di sisinya bagai anak macan lucu yang siap menerkam kapan saja. Nyali Prabowo menyusut di tengah desakan dan ancaman yang makin menjadi.
Maka, rakyat harus bergerak. Mengepung istana, mendesak presiden agar punya nyali mengganti Kapolri. Mengepung DPR dan MPR, mendesak mereka bertindak rasional memakzulkan Gibran. Bergerak bersama aparat setempat untuk menangkap Jokowi, menyidik, dan segera membawanya ke pengadilan.
Singkatnya, Tritupol harus jadi agenda prioritas. Untuk kebaikan negeri, sebagai bentuk bakti pada ibu pertiwi.
") Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 4 Januari 2026
Artikel Terkait
Anggota DPR Apresiasi Penundaan Pengiriman Pasukan Perdamaian ke Gaza
Lingkar Madani Kritik Keras Pengalihan Tahanan Yaqut ke Rumah oleh KPK
ICW Desak KPK Jelaskan Alasan Pengalihan Tahanan Yaqut ke Rumah
KPK Tegaskan Semua Tahanan Berhak Ajukan Tahanan Rumah, Termasuk Yaqut