Pagi ini, Rabu (4/2/2026), IHSG membuka perdagangan dengan sentimen positif. Indeks saham berhasil menguat 0,31 persen, mengawali hari di level 8.148,15. Zona hijau pun menyambut para investor di awal sesi.
Kalau dilihat dari pergerakannya, saham-saham yang naik lebih banyak jumlahnya. Tercatat ada 329 saham yang menguat, sementara yang melemah 'hanya' 191. Sisanya, 438 saham, cenderung diam di tempat. Transaksi berjalan cukup aktif, dengan volume mencapai 2,77 miliar saham dan nilai totalnya menyentuh angka Rp1,57 triliun.
Di sisi lain, performa sektoral tampak beragam. Ada yang melesat, tak sedikit juga yang tertekan. Sektor bahan baku jadi primadona pagi ini dengan kenaikan hampir 1,9 persen. Energi juga ikut menguat 0,59 persen, diikuti kesehatan, transportasi, keuangan, dan teknologi yang catatannya tetap positif.
Namun begitu, tekanan jual cukup jelas terlihat di beberapa sektor lain. Sektor non-primer, misalnya, justru terperosok 1,81 persen. Infrastruktur dan primer juga ikut melemah, masing-masing 0,67 persen dan 0,48 persen. Properti dan industri pun tak luput dari koreksi, meski penurunannya relatif lebih landai.
Nah, yang menarik adalah aksi beberapa saham tertentu. Di papan gainers, ada nama-nama yang melonjak tajam.
PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) memimpin pesta dengan kenaikan fantastis 24,60 persen. PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN) dan PT Soho Global Health Tbk (SOHO) tak kalah perkasa, masing-masing naik 19,25 persen dan 15 persen.
Tapi ceritanya berbeda untuk saham-saham di daftar merah. Tekanan jual yang cukup keras menghantam beberapa emiten.
PT Pinnacle Persada Investama Tbk (XPDV) dan emiten dengan kode serupa XPLQ sama-sama anjlok lebih dari 14 persen. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) juga ikut terpuruk dengan penurunan 14,79 persen.
Kalau menengok aktivitas kemarin, ada pola yang kontras antara pelaku domestik dan asing. Investor lokal tampaknya masih percaya diri. Mereka mencatatkan net buy sekitar Rp833,9 miliar, dengan nilai pembelian menyentuh Rp20,55 triliun.
Sebaliknya, investor asing justru memilih mengambil untung. Mereka membukukan net sell yang besarnya persis sama dengan net buy domestik, yakni Rp833,9 miliar. Artinya, mereka lebih banyak melepas saham ketimbang membelinya di sesi sebelumnya. Sebuah dinamika yang selalu menarik untuk diamati.
Artikel Terkait
Indonesia Tuan Rumah Kualifikasi U-12 Junior Soccer World Challenge 2026, Jadi Peluang Emas Akademi dan SSB
LPSK Turun Tangan Tangani Kasus Kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta, 13 Permohonan Perlindungan Masuk
Roy Suryo Pamerkan Amplop Berisi Uang Pemberian Rismon Sianipar di Acara TV
Topi Merah Terima Somasi Kedua dari Ahli Forensik Rismon soal Klaim Kejanggalan Ijazah Jokowi