Suara dari Dalam: Warga NU Menolak Board of Peace dan Kritik terhadap PBNU
Sebagai warga Nahdlatul Ulama, rasa prihatin dan penolakan kami sudah tak terbendung lagi. Kami geram dengan keterlibatan Indonesia dalam apa yang disebut Board of Peace. Lebih menyakitkan lagi, dukungan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf, terhadap langkah Presiden Prabowo ini. Beliau bilang itu jalan tepat untuk Palestina. Tapi bagi kami, klaim semacam itu mengabaikan kenyataan pahit yang sudah lama diingatkan banyak intelektual, baik di dalam negeri maupun dunia internasional.
Damai tanpa keadilan? Itu cuma ilusi. Bahkan, itu adalah kelanjutan penjajahan gaya baru yang dibungkus bahasa manis. Sementara itu, darah tetap tertumpah, tanah terus dirampas, dan kemerdekaan Palestina semakin jauh dari kenyataan.
Memang, argumen bahwa kita harus terlibat untuk membuka akses terdengar masuk akal di permukaan. Namun begitu, logika itu langsung runtuh ketika kita melihat sejarah panjang konflik ini. Seolah-olah relasi kuasa dan struktur dominasi yang timpang itu tidak pernah ada.
Sejumlah pengamat politik ekonomi sudah sering memperingatkan. Akses yang "diberikan" oleh pusat kekuasaan global seringkali bukan pintu dialog, melainkan alat kontrol. Suara korban dibungkam agar tidak mengganggu kepentingan ekonomi dan geopolitik mereka yang sudah mapan.
Forum seperti Board of Peace bukanlah ruang kosong. Ia lahir dari sejarah kelam, dari Nakba hingga pembantaian di Gaza hari ini. Desainnya justru memelihara ketimpangan struktural yang menguntungkan penjajah.
Sejak awal, Board of Peace ini lebih mirip perpanjangan tangan kepentingan Amerika Serikat. Bukan upaya perdamaian yang jujur. Coba lihat, rancangannya sepihak. Bahkan tidak ada satu pun perwakilan Palestina pihak yang paling menderita duduk di meja perundingan.
"Perdamaian Tanpa Kemerdekaan Palestina" itu cuma gema dari Washington. Bukan solusi.
Formula seperti ini sama sekali tidak menjawab akar ketidakadilan. Malah, bagi forum ini, Gaza cuma direduksi jadi proyek rekonstruksi. Ladang bisnis baru bagi negara penindas, bukan upaya sungguh-sungguh menyembuhkan luka kemanusiaan yang dalam.
Di sinilah ujian moral bagi NU. Seorang pemimpin organisasi ulama seharusnya tidak menyederhanakan persoalan hanya dengan seruan "harus terlibat". Ada risiko etis dan politik yang harus ditimbang matang-matang. Para pendiri dan masyayikh NU mewariskan kehati-hatian terhadap kekuasaan yang zalim. Agama akan kehilangan ruhnya jika dipakai untuk mengesahkan penindasan.
Bagi kami, Palestina bukan sekadar bahan diplomasi atau hitung-hitungan untung rugi hubungan internasional. Apalagi cuma soal tarif dagang. Palestina adalah benteng terakhir perjuangan moral dunia. Di sanalah pertarungan antara hak dan batil berlangsung nyata. Genosida yang berlangsung sekarang adalah bentuk kolonialisme yang dipertahankan dengan instrumen-internasional. Ini pengkhianatan terhadap kemanusiaan.
Artikel Terkait
Kisah Kiki: Amukan di Bintaro Berakhir dengan Permintaan Maaf
Sangadji: Jangan Bayangkan Sidang, Kasus Ijazah Jokowi Masih Panjang
Abraham Samad Desak Prabowo Kembalikan 57 Pegawai KPK yang Ditendang Lewat TWK Abal-abal
Kota Anjing di Greenland: Di Balik Gonggongan yang Menjaga Warisan Arktik