Gagal menghentikannya berarti gagal mewujudkan tujuan nasional kita. Gagal nurani. Maka, membicarakan Palestina hanya dengan bahasa "damai" dan "stabil" tanpa keadilan, itu sama saja meredam perlawanan dan menormalisasi pendudukan.
Narasi damai yang terpisah dari keadilan hanya akan mengulang sejarah kelam. Korban akan tetap jadi objek, bukan subjek yang menentukan nasibnya sendiri. Banyak pemikir global bilang, imperialisme paling licik justru bekerja ketika kekerasan diberi wajah prosedural yang "dialogis" dan "damai".
Damai model begini bukan cara baru. Ia hanya pengelolaan agar status quo tetap diterima dunia yang enggan bercermin.
Kami serukan: PBNU harus berani jernih secara moral. Jangan terperangkap ilusi netralitas. Forum damai yang abai pada keadilan adalah ruang paling berbahaya, karena di situlah kezaliman dinormalisasi.
PBNU seharusnya berdiri sebagai penjaga nurani umat. Sejarah NU kuat justru karena kemampuannya menjaga jarak kritis dari kekuasaan. Karena keberaniannya menyuarakan kebenaran yang pahit, bukan karena kedekatannya dengan penguasa.
NU dituntut untuk kembali jadi pembimbing moral. Menjernihkan mana yang hak, mana yang batil. Bukan mengaburkannya dengan bahasa kepentingan.
Ketegasan moral adalah wujud kesetiaan pada warisan para ulama. Dunia boleh berubah, tapi prinsip etis tidak boleh ikut angin. NU harus jadi ruang kejernihan. Tempat di mana keberanian moral lebih utama dari akses politik. Di mana kebenaran tidak ditunda, dan keadilan tidak ditawar.
Di dunia yang semakin kabur ini, NU harus bicara bukan cuma dengan bahasa yang diterima kekuasaan, tapi dengan bahasa yang benar di hadapan sejarah dan, yang paling utama, di hadapan Allah. Di situlah ujian keulamaan: membela kebenaran, menegakkan keadilan, membela yang tertindas, dan melawan kezaliman, meski harus berdiri sendirian melawan arus.
Warga Nahdlatul Ulama
M.Mustafid (wakilsekretarisPWNUDIY)
Heru Prasetia (sekretarisLakpesdamPWNUDIY)
Hasan Basri (anggotalesbumiNU)
Nur Khalik Ridwan
Roy Murtadho (pengajar pesantren Ekologi Misykatal Anwar)
Abdurrohman Azzuhdi (dept.Keagamaan dan Ideologi Ansor Pajangan Bantul)
Citra Orwela (Akademisi)
Lutfi Makhasin (Akademisi)
Ahmad Hasby (LTNPCNUTEGAL)
Dedik Priyanto (Aktivis Media NU)
... dan seterusnya hingga nama ke-127.
Artikel Terkait
Kisah Kiki: Amukan di Bintaro Berakhir dengan Permintaan Maaf
Sangadji: Jangan Bayangkan Sidang, Kasus Ijazah Jokowi Masih Panjang
Abraham Samad Desak Prabowo Kembalikan 57 Pegawai KPK yang Ditendang Lewat TWK Abal-abal
Kota Anjing di Greenland: Di Balik Gonggongan yang Menjaga Warisan Arktik