Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Inspektur Dua Benediktus E Pissort, mengonfirmasi perkembangan penyelidikan. "Dugaan sementara, korban bunuh diri. Kendati demikian, polisi masih terus melakukan pendalaman," kata Benediktus melalui sambungan telepon pada Senin (2/2/2026).
Ia juga membenarkan bahwa surat tersebut diduga kuat ditulis oleh korban. "Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan," lanjutnya. Sejumlah saksi telah diperiksa untuk melengkapi berkas penyelidikan.
Keterangan Keluarga dan Lingkungan Sekitar
MGT (47), ibu korban, menyatakan bahwa pada malam sebelumnya korban menginap di rumahnya. Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 Wita, korban dititipkan ke tukang ojek untuk kembali ke pondok neneknya. Ibunya sempat memberikan nasihat agar rajin bersekolah dan menyebut kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan.
Lipus Djio (47), warga setempat yang anaknya berteman dengan korban, memberikan keterangan terpisah. Ia menggambarkan korban sebagai anak yang periang dan cerdas. Menurut Lipus, kondisi keluarga korban menghadapi banyak tantangan. Ayah korban telah meninggal saat korban masih dalam kandungan, dan ibunya menafkahi lima anak. "Yang bikin kami tidak mengerti adalah mengapa anak sekecil itu bisa bunuh diri? Begitu beratkah beban yang ia pikul?" ujar Lipus, seperti dikutip dalam pemeriksaan.
Lipus juga menuturkan, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena sebelum kejadian, namun permintaan itu tidak dapat dipenuhi. Korban lebih sering tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Saat kejadian, sang nenek sedang berada di rumah tetangga.
Artikel Terkait
Prabowo Dapat Dukungan Ormas Islam untuk Langkah Diplomasi Palestina
Strategi Sun Tzu di Balik Rekor Tak Terkalahkan Jokowi
Potensi Rp70 Triliun Tersandera: Mengapa Game Lokal Cuma Kuasai 5% Pasar Sendiri?
Pandji Pragiwaksono Sowan ke MUI, Tabayyun Soal Kontroversi Mens Rea