Jeritan Jamal di Gaza: Saat Sejarah Berusaha Dihapus, Tubuh Bocah Ini Jadi Saksi

- Selasa, 03 Februari 2026 | 14:00 WIB
Jeritan Jamal di Gaza: Saat Sejarah Berusaha Dihapus, Tubuh Bocah Ini Jadi Saksi

Tapi Pompeo dan kawan-kawannya lupa satu hal: rakyat Palestina sudah berkali-kali menghadapi upaya penghapusan. Kami selalu bertahan. Dan kami akan bertahan lagi.

Dalam soal kesaksian, ada kata “martir” atau “syahid”. Asal katanya dari bahasa Yunani martus, artinya “saksi”. Dalam bahasa Arab, “syahid” juga berakar dari kata yang berarti menyaksikan. Maknanya berkembang: bukan hanya tentang kematian, tapi juga tentang keteguhan heroik menghadapi penderitaan.

Jamal adalah syahid yang masih hidup. Tubuhnya adalah saksi bisu penderitaan yang luar biasa. Ia dihantam kekerasan perang, tapi ia dan ibunya terus bertahan, berjuang untuk tetap hidup.

Di sekitar tenda mereka, ada ribuan tenda lain. Jeritan Jamal menembusnya siang dan malam. Di dalam tenda-tenda yang dingin dan sering basah itu, ada ribuan orang yang juga butuh evakuasi medis mendesak. Penderitaannya nyata, massal. Tapi orang-orang seperti Pompeo tetap saja membenarkan proses eliminasi yang sudah berakar sejarah ini.

Kami, rakyat Palestina, juga adalah penyair di hati. Dan penyair adalah saksi. Seperti yang ditulis Mahmoud Darwish:

Kalian yang lewat di antara kata-kata fana,
Bawalah nama kalian dan pergilah.
Bersihkan waktu kami dari jam-jam kalian.
Curilah birunya laut, ambil foto sesukamu,
Tapi kalian takkan pernah pahami satu hal:
Bagaimana batu dari tanah kami bisa menjelma langit kami.

Kami akan menjaga ingatan ini. Seperti kami menjaga luka Deir Yassin, Jenin, Muhammad al-Durrah, dan setiap pohon zaitun yang tercabut dari akarnya.

Kami, bersama jutaan orang yang bersolidaritas di seluruh dunia, telah menyaksikan penghancuran Gaza. Menantang Pompeo, dan untuk menghormati Jamal, kami akan mengambil batu-batu dari puing Gaza, lalu membangun langit yang baru.

"Prof Dr Ghada Ageel, pengungsi Palestina generasi ketiga dan profesor tamu di Departemen Ilmu Politik, University of Alberta, Kanada.


Halaman:

Komentar