Forum Aksi Bergerak Lagi, Bantuan Dikirim ke Aceh Tengah dan Bener Meriah
JAKARTA Aksi kemanusiaan terus bergulir di Aceh. Setelah banjir bandang yang melanda pada pertengahan Januari lalu, organisasi kemasyarakatan Forum Aksi kembali turun tangan. Kali ini, mereka menyasar dua kabupaten yang rusaknya cukup parah: Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Di lapangan, kondisi masih memprihatinkan. Forum Aksi tak hanya datang dengan bantuan logistik biasa. Mereka membawa dua ton beras, bahan makanan pokok, serta obat-obatan yang sangat dibutuhkan. Yang menarik, ada juga 300 mushaf Al-Qur’an yang turut disalurkan untuk memberi ketenangan batin bagi warga.
Bantuan kesehatan mereka serahkan langsung ke Posko Kesehatan di Bener Meriah. Di sana, drg. Indah Koswara dari Puskesmas setempat yang menerimanya.
Untuk mempercepat distribusi dan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal, Forum Aksi punya strategi. Sebanyak 1,5 ton bahan pangan mereka terbangkan dari Jakarta. Tapi, satu ton beras lainnya sengaja dibeli dari pasar lokal di Takengon. "Ini bentuk dukungan kami agar perputaran uang di daerah terdampak juga tetap jalan," jelas seorang relawan di lokasi.
Namun begitu, bantuan sebanyak itu dirasa masih belum cukup. Presidium Forum Aksi, Dr. Nuning D Nova, tak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat langsung dampak bencana.
“Sedih membayangkan betapa berat penderitaan masyarakat terdampak. Bantuan sosial yang kami bawa ini masih jauh dari cukup jika dibandingkan dengan kebutuhan riil warga,”
Ucapnya usai menyerahkan bantuan obat di Bener Meriah. Menurutnya, penderitaan warga tidak cuma terpusat di dua kabupaten itu saja. Sekitar 20 kabupaten di seantero Aceh merasakan dampaknya.
Letak geografis disebutkan sebagai salah satu penyebab kerusakan hebat. Aceh Tengah dan Bener Meriah berada di kaki Pegunungan Gayo, bagian dari Bukit Barisan. Kawasan seperti ini memang rawan banjir bandang dan tanah longsor.
Melihat skala kerusakan yang begitu luas, Forum Aksi pun menyuarakan himbauan mendesak. Mereka meminta Kementerian Kesehatan untuk mempercepat program pemulihan pascabencana. Pasokan obat dan vitamin harus ditingkatkan. Layanan rehabilitasi sosial dan program healing untuk anak-anak korban bencana juga dinilai sangat penting.
Di sisi lain, masalah tempat tinggal sementara jadi persoalan krusial lainnya. Forum Aksi mendesak percepatan pembangunan Huntara, mencontoh apa yang sudah dilakukan di Aceh Tamiang.
“Sudah hampir dua bulan warga masih tinggal di tenda-tenda BNPB. Sulit membayangkan puluhan ribu ibu, anak-anak, dan lansia bertahan di tenda yang pengap dan rentan penyakit,”
Tekannya. Suasana di tenda pengungsian, kata dia, sudah tidak layak lagi untuk waktu yang lama.
Tak berhenti di situ, perbaikan infrastruktur dasar harus jadi prioritas. Mulai dari jaringan listrik yang putus hingga ribuan titik sumur bor di desa-desa yang hancur. Semua perlu segera dibenahi.
Wilayah dengan kerusakan terberat selain dua kabupaten tadi, antara lain Aceh Utara, Pidie, dan Bireuen. Penanganannya, menurut Dr. Nuning, butuh kerja sama terpadu lintas kementerian. Hanya dengan cara itu pemulihan bisa berjalan cepat dan warga Aceh bisa kembali hidup layak.
Laporan dari Aceh menunjukkan, jalan menuju pemulihan masih panjang. Butuh lebih banyak tangan dan perhatian agar luka ini bisa sembuh.
Artikel Terkait
Truk Tangki Modifikasi Muat 5 Ton Solar Terguling, Puluhan Kecelakaan Beruntun di Bangkalan
Polisi Bongkar Judi Online Skala Besar di Batam, Dua Tersangka Kelola Lebih dari 200 Ribu Akun
Penundaan 11 Jam Sriwijaya Air SJ-581, Penumpang Mengeluhkan Minimnya Kompensasi dan Komunikasi
PSM Makassar Kalahkan Bhayangkara 2-1, Modal Penting Jauhi Zona Degradasi Liga 1