Gemuruh sorak peserta memenuhi ruangan. Suasana menjadi begitu elektrik.
Di sisi lain, perintah Sigit di Komisi III juga mendapat sambutan. Bukan sorak, melainkan tepuk tangan riuh dari para anggota dewan yang hadir. Bahkan, ada satu teriakan yang mencolok terdengar di antara riuhnya tepuk tangan.
Suara itu jelas terdengar. Tapi, di sinilah letak keanehannya. Tindakan anggota Komisi III itu agak mengundang tanya. Mengapa mereka justru bertepuk tangan atas perintah seorang Kapolri untuk "berjuang" melawan sebuah wacana yang, konon, justru berasal dari lingkungan pemerintahan baru?
Ketua Komisi III, Habiburokhman, malah memberikan justifikasi. Dia bersaksi bahwa sikap Kapolri itu adalah bentuk loyalitas kepada Presiden, bukan pembangkangan.
Namun begitu, fakta yang beredar justru berkata lain. Dalam pertemuan dengan kelompok kritis baru-baru ini, Presiden Prabowo sendiri disebut-sebut membuka opsi penempatan Polri di bawah kementerian. Lalu, apa makna tepuk tangan dan kesaksian loyalitas tadi? Ini jadi pertanyaan yang menggantung.
Sebagai petinggi Gerindra, seharusnya Habiburokhman lebih berhati-hati. Sikapnya yang terlalu "maju" dan langsung pasang badan itu terkesan tidak perlu. Kecuali, tentu saja, ada kepentingan lain di baliknya yang belum terkuak. Entahlah. Tindakan-tindakan memalukan semacam ini sepertinya sudah melekat pada sebagian anggota dewan kita.
Kembali ke Jokowi. Wajar rasanya kalau dia bekerja mati-matian untuk PSI. Ketua Umum partai itu adalah anak bungsunya, dan calon yang akan diusung nanti adalah anak sulungnya. Logis, kan? Kalau dia tidak berjuang habis-habisan, justru itu yang aneh. Dia yang punya kepentingan langsung, masa tidak mau berkorban?
Artikel Terkait
Saksi Tolak Tanda Tangan BAP, Lampiran Timbangan Narkoba Jadi Sorotan
WALHI Soroti Ambisi Ekonomi 8 Persen: Alam Terus Dikorbankan
Arab Saudi Cabut Izin 1.800 Agen Umrah Luar Negeri
Amuk Berdarah di Situbondo: Istri Hamil Dibacok, Warga Diteror